Thursday, January 24, 2013

Di Bawah Bulan






Mengapa warna langit tidak hijau? mengapa harus biru? mengapa malam itu gelap pada awalnya, dan benderang pada akhirnya?
Namun ajaibnya aku tetap menyukai hal tersebut tanpa harus tahu mengapa semua hal tercipta seperti itu.
***

Duniaku berkisar di sebuah desa nan jauh dari perkotaan, duniaku penuh dengan bintang dalam arti sebenarnya, malamku beredar dengan kerlip melimpah, terlihat jelas bagai perhiasan di kalung sang malam. Duniaku sepi tanpa hingar bingar kendaraan, tanpa kelap kelip lampu menara pemancar sinyal, yang ayahku bilang desa ini perlu  semua hal itu untuk dapat ‘terjangkau’ dari luar daerah tempat kami tinggal.

Aku suka tinggal di sini, saat sebagian besar dewasa muda seumuranku berusaha mencari mata pencaharian yang lebih baik dengan pergi keluar desa, aku lebih suka disini, melihat malam dengan mata telanjang, melihat pagi dengan mata kesilauan akan cahaya matahari, tanpa ada aling-aling gedung kecuali hamparan luas padang ilalang terbentang.

Aku percaya aku bukan sebatang kara, kakek dan nenekku telah bertahun meninggal, begitu pula ibuku, namun ayahku yang tinggal di kota kadang menjengukku ke sini. Di desa yang sangat beliau benci, desa yang manakala saat berkunjung kemari selalu ia keluhkan masalah sinyal dan jambannya. Berkali ia memintaku pindah, pindah ke tempat tinggalnya dikota, kota asing yang sama sekali tidak aku ingat walaupun aku dilahirkan disana. Kini penduduk desa pikir aku sendirian, aku sebatang kara, sejak ayahku tidak pernah kemari lagi, itupun 4 tahun lalu.
Aku sama sekali tidak mendapat kabar tentang ayahku sejak saat itu, aku tahu bahwa ayahku tinggal dikota, aku tahu alamatnya, ayahku pernah menyimpan alamat tempat tinggalnya di samping meja tidurku sebelum beliau pergi. Namun aku tidak mau, aku tidak mau mencarinya, bukannya aku takut tersesat jika kesana, aku hanya takut sebagian mimpi terburuk tentang ayahku terwujud saat aku kesana.

Bertahun rasioku berkecamuk dengan perasaanku, untuk pergi atau tidak pergi ke tempat ayahku, Namun ayahku tidak pernah memaksaku kesana, walaupun ia pernah memintaku untuk tinggal bersama keluarganya. Semakin memikirkannya aku semakin sedih, karena mengingat betapa sedikitnya hal yang aku ketahui tentang ayahku.

Hal tersebut berbanding 1:10000 jika dibandingkan dengan pengetahuanku tentang desa ini. Aku mencintai tempat ini, lebih dari apapun sekarang, entah desa ini membawaku ke mana, namun desa ini tidak mengingatkanku tentang masalalu, karena sejak kecil yang kuanggap sebagai masalalu pun tetap menjadi masa sekarang, aku tidak pernah berpindah tempat dari desa ini, hal aneh namun memikat yang bahkan membuatku heran karena mampu memerintahku dan melupakan segala dilema yang ada untuk pergi menemui ayahku di kota.

Tidak ada satu hal pun yang dapat menggangguku untuk segala hal yang dapat aku miliki tentang desa ini. Kini aku mengabdi pada desa ini, dipagi hari aku akan melihat banyak orang beramai-ramai pergi ke ladang, anak-anak beramai-ramai menuju ‘gubuk’ yang kami jadikan sarana, dan di sore hari aku akan melihat anak-anak berlarian menyelamatkan diri dari rintik hujan yang kian menderas dibawah pelepah daun pisang menuju rumah mereka masing-masing. Aku seorang guru.

Aku mencintai desa ini, dengan semua hal yang ada didalamnya. Rumput ilalang yang kian tinggi, ladang yang kian ranum buah-buahannya, sawah yang kian menguning, dan sungai yang kian indah percik airnya. Begitu juga dengan penduduknya, yang selalu tersenyum dan bertegur sapa saat hari cerah dan tidak hujan. Dan bintang.

Segalanya. Sampai hati dan jiwa ini hilang diri mungkin raga ini hilang kendali. Hanya karena bertemu dengan dia. Dia yang bahkan bukan berasal dari desa ini. Bukan orang dengan profesi serupa denganku. Mengalihkanku akan bintang nan indah setiap malam, atau lembut rumput ilalang yang kian kering di hangat senja.

Kepala desa bilang ia kemari untuk merawat Bu Mestika, Ibu Mestika sudah tua, usianya hamper sepertiga abad, sepengetahuanku Ibu Mestika tidak perlu di tunggui setiap harinya, ia masih sehat di usia senja.  Ia tetanggaku yang paling dekat, Ibu Mestika sangat akrab dengan keluargaku. Sampai Kakek kemudian nenekku meninggalpun Bu Mestika lah yang selalu menemaniku. Sehingga aku seperti sekarang, gadis yang masih lajang, dan belum tahu dengan siapa ia seharusnya. Sampai aku bertemu dengannya.

Aku sendiri tidak pernah tahu jika Ibu Mestika memiliki seorang anak, apalagi cucu, yang membuat pengetahuanku tentang keluarga Ibu Mestika selesai sampai disitu, bahwa Ibu Mestika tidak punya keluarga, mungkin empat bulan lalu aku dapat menemani Ibu Mestika yang sebatang kara. Aku dan seorang wanita tua yang sama sekali tidak merepotkan hidup bersama-sama, dua orang wanita terpaut usia yang sebatang kara namun hidup berdampingan. Dan kepahitan dunia tidak akan menjadi masalah apapun bagi kami. Membayangkannya saja membuatku tersenyum, pikirku aku memiliki seorang teman untuk menjalani hidupku yang indah ini.

Sampai ada dirinya, yang menemani Ibu Mestika sepanjang hari, orang pertama yang kulihat dapat membuat Ibu Mestika memancarkan sorot mata penuh kasih sayang sarat rindu di matanya.

“Namanya Fardan, nak. Dia putra dari anak angkat ibu, jaga cucu ibu satu-satunya ya nak. Dia masih sungkan tinggal disini, tolong dia ‘Nak” begitu sahut ibu Mestika suatu waktu saat ia bersamaku. Setelah tersebar berita dari obrolan penduduk desa, bahwa pemuda bernama Fardan ini adalah putra dari anak angkat bu Mestika, suami Bu Mestika yang sudah lama meninggal saat aku masih kecil, ternyata memiliki anak angkat yang tinggal dikota, Bu Mestika memang tidak pernah memiliki keturunan. Namun anak angkat Bu Mestika tidak ada yang tinggal di desa ini, semuanya tinggal di kota. Cerita tinggal lah cerita, sampai pada saatnya semuanya terbukti sekarang, putra dari anak angkat Bu Mestika yang tinggal dikota telah tiba di desa ini.

Kami belum pernah bertegur sapa, apalagi bersenda gurau, temanku Indri adalah yang paling dekat dengannya, kurasa. Sehari setelah aku pertama kali melihatnya tiba di desa ini, ia keluar dari mobil yang di kendarainya, seorang diri. Aku terdiam di teras rumahku sambil membawa payung saat melihatnya terburu masuk ke dalam rumah Bu Mestika, hujan saat itu. Bu Mestika langsung menyambut cucunya tersebut dan mengajaknya masuk. Malamnya saat hujan sudah reda, langit belum kunjung cerah. Sehingga bintang yang kunantikan belum juga tampak. Payung yang kusiapkan untuknya mungkin hanya seonggok payung biasa yang tergeletak disudut ruangan. Sampai keesokan harinya ia berkeliling desa bersama Indri temanku, aku bahkan tidak memiliki kesempatan untuk berkenalan dengannya.

****

Setiap hari yang kulalui seharusnya menjadi hari yang biasa, hari yang menyenangkan dengan aroma tanah bekas hujan dimalam hari. Atau matahari yang benderang terik seperti biasanya saat pagi hari. Namun sejak kedatangannya di desa ini, aku merasakan hal yang tidak biasa.

Fardan akan membantu Bu Mestika, di ladang saat pagi hari, membantu memasukkan dendeng yang di jemur kedalam rumah menjelang sore, dan terkadang aku melihatnya kembali dari tajuk di desa kami selepas isya.

Kami tidak pernah bertemu secara langsung, aku hanya melihatnya dari teras rumahku. Pernah suatu saat ia memergokiku sedang melihatnya. Sebenarnya aku ragu, ia melihatku, atau melihat bunga yang sedang kurawat di halaman rumahku, saat bertemu pandang.. aku hanya menunduk malu, dan aku tidak tahu kelanjutannya, karena setelah itu yang aku lakukan adalah langsung masuk kerumahku.

Setelah hampir dua minggu aku menjalani rutinitasku seperti biasa, aku merasa risih untuk mengganti hal yang sedang kulakukan jika bertemu dengannya. Hingga akhirnya sepulang mengajar anak-anak. Aku bertemu dengannya di persimpangan jalan antara rumahku dan padang ilalang tempatku bermain semasa aku kecil. Hujan. Fardan. Untuk sesaat aku hanya terdiam melihatnya kehujanan, namun karena hanya aku yang membawa payung dan hanya ada aku pula disekitarnya, mau tak mau aku menghampirinya.Tapi tanpa aku sadari, ternyata aku tidak membawa payung. Payung yang aku kira bersemayam didalam tasku ternyata tidak ada, aku menjadi kikuk karena aku sudah hampir setengah jalan menuju tempatnya berada. Dengan berbagai pertimbangan selama beberapa saat, akhirnya aku menghampirinya. Tempatnya berada adalah gubuk tua yang sudah lama ditinggalkan namun masih ada atap untuk berteduh.

Ia tersenyum saat aku menghampirinya. Dengan kikuk ia memegang tas berisi sayuran dan mengelap tangannya yang terkena rintik hujan berkali-kali.
“Kamu tinggal di sebelah rumah nenekku ‘kan?” katanya mengawali percakapan.
“Iya,” aku hanya dapat mengatakan kata itu, karena aku bingung untuk bertanya apa padanya.
“Fardan” serunya memperkenalkan diri, tanpa menawarkan tangannya untuk disalami. Karena kedua tangannya sibuk mencari cari sesuatu didalam tas yang tengah ia pegang.


_Bersambung
Hana Zainab Mukarromah Web Developer

I am a programming teacher who lived in Bandung, pluviophile nephelolater, oneironaut, writer, blogger, muslimah for a living