Tuesday, February 19, 2013

Di Bawah Bulan - Bagian ke empat



"Dua kali seminggu petugas dari kantor desa akan rutin mengontrol saluran irigasi yang bulan kemarin sempat tertimpa tanah longsor” paparnya padaku siang tadi.
Jadilah aku tahu pekerjaan apa yang hendak Fardan jemput ke desa ini. Dan betapa malunya aku saat mengetahui bahwa ia pasti lebih tahu banyak tentang tanaman obat yang ada di depan rumahku. Aku mengiba mengapa ia bahkan tidak berkata bahwa dirinya adalah lulusan dari jurusan pertanian.

Atau bahkan sejak awal saat kami membereskan kebun di belakang rumah nenek, aku tidak menyimak bahwa ia pernah mengatakan beberapa hal singkat tentang tingkat kesuburan tanah yang terhampar luas di desa ini.

Atau mungkin hanya diriku saja yang kurang memperhatikan setiap hal yang diucapkannya seminggu ini, aku yakin pernah mendengar banyak hal tentang ‘holtikultura’ darinya saat kami mengeringkan biji-biji cabai.

Aku pasti memperhatikan hal lain saat itu, entah itu suaranya, caranya berbicara, atau caranya menatap nenek yang tanpa lelah menyiapkan bebagai macam makanan untuk kami di siang hari.

Aku merasakan pikiranku mulai hilang fokus akhir-akhir ini. Asalkan di sekitarku ada dirinya, ia seolah secara otomatis menjadi hal paling utama untukku. Terlebih saat bayangan semu dirinya yang sering hadir di dalam mimpiku, menggantikan mimpi konstan tentang ayahku.
****

 “Ibuku bilang Fardan mau menetap disini,” seru Indri temanku.
“Berapa lama?” Tanya Rida membelalak ingin tahu.
“Mmm, mungkin selamanya” jawabnya lagi riang sambil mengangkat bahu.

Aku berpikir mungkin Fardan akan memberitahuku jika saja aku tanyakan padanya tentang kepastiannya tinggal di desa ini.

Dan aku tidak akan memikirkan hal yang lebih jauh lagi setelah mendengar percakapan Indri dan Rida di depan koperasi tadi. Tentu hal yang tidak mungkin kulakukan, aku takut Fardan berpikir aku terlalu ikut campur pada urusannya. Tidak akan. Tidak akan pernah kutanyakan hal-hal yang sekiranya akan mengganggu dan terkesan mencampuri urusan pribadinya. Akan kututup rapat saja rasa penasaran ini. Sampai disaat ia akan memberitahuku dengan sendirinya.

****

“Fardan, kau akan tinggal di desa ini berapa lama?” aku melongo mendengar suaraku yang tanpa izin keluar begitu saja dari mulutku.  Aku menyentuh pipiku yang pasti memerah malu. Dan kini akibatnya ia menghentikan aktivitasnya, kemudian membalikkan sepenuhnya badannya kearahku.

“Mungkin, lebih lama lagi. Kenapa , Aruna ?” sahutnya sambil menyimpan tang tanaman yang tadinya sedang ia gunakan di teras depan rumah nenek.

Aku mengerjap tanda tak sabar menyudahi pembicaraan ini, tapi lagi-lagi sebuah suara tak asing yang tanpa izin ini keluar begitu saja dari mulutku.

“Aku hanya penasaran, dengan yang akan kau lakukan di desa ini, dalam jangka panjang.. sambil .. selain tinggal bersama nenek” aku tertahan mendengar suaraku sendiri. Dan tidak sempat berpikir apa reaksi selanjutnya yang akan Fardan katakan.
Ia menatapku curiga, menyibak bagian atas rambutnya lalu duduk di teras di depan tempatku berdiri.

“Hei Aruna, itu kalimat paling panjang yang pernah kau katakan saat berbicara denganku” ujarnya tersenyum.

Satu tarikan nafas. Satu tarikan nafas bahkan, kalimat tanpa izin yang kau maksud itu keluar dari mulutku dalam satu tarikan nafas.

”Melakukan hal yang sangat ingin kulakukan sejak lama” ujarnya santai lalu tersenyum lama sambil menatapku.

****

Entah apa yang aku lakukan terhadap pikiranku. Kadang ia berjalan tidak sesuai dengan keinginanku.

Dan aku tanpa sengaja membiarkan pikiranku terbuka, mulai dari senyum atau gerakan riang yang rasanya tidak perlu kulakukan.

Sampai percakapan atau pertanyaan yang tidak pernah aku rencanakan sebelumnya.
Jika ini tentang cinta, kau lebih baik membiarkannya terjadi tanpa harus merencanakannya terlebih dahulu.

Labels: , , , , , , , , , , , ,

Thursday, January 24, 2013

Di Bawah Bulan





Mengapa warna langit tidak hijau? mengapa harus biru? mengapa malam itu gelap pada awalnya, dan benderang pada akhirnya?
Namun ajaibnya aku tetap menyukai hal tersebut tanpa harus tahu mengapa semua hal tercipta seperti itu.
***

Duniaku berkisar di sebuah desa nan jauh dari perkotaan, duniaku penuh dengan bintang dalam arti sebenarnya, malamku beredar dengan kerlip melimpah, terlihat jelas bagai perhiasan di kalung sang malam. Duniaku sepi tanpa hingar bingar kendaraan, tanpa kelap kelip lampu menara pemancar sinyal, yang ayahku bilang desa ini perlu  semua hal itu untuk dapat ‘terjangkau’ dari luar daerah tempat kami tinggal.

Aku suka tinggal di sini, saat sebagian besar dewasa muda seumuranku berusaha mencari mata pencaharian yang lebih baik dengan pergi keluar desa, aku lebih suka disini, melihat malam dengan mata telanjang, melihat pagi dengan mata kesilauan akan cahaya matahari, tanpa ada aling-aling gedung kecuali hamparan luas padang ilalang terbentang.

Aku percaya aku bukan sebatang kara, kakek dan nenekku telah bertahun meninggal, begitu pula ibuku, namun ayahku yang tinggal di kota kadang menjengukku ke sini. Di desa yang sangat beliau benci, desa yang manakala saat berkunjung kemari selalu ia keluhkan masalah sinyal dan jambannya. Berkali ia memintaku pindah, pindah ke tempat tinggalnya dikota, kota asing yang sama sekali tidak aku ingat walaupun aku dilahirkan disana. Kini penduduk desa pikir aku sendirian, aku sebatang kara, sejak ayahku tidak pernah kemari lagi, itupun 4 tahun lalu.
Aku sama sekali tidak mendapat kabar tentang ayahku sejak saat itu, aku tahu bahwa ayahku tinggal dikota, aku tahu alamatnya, ayahku pernah menyimpan alamat tempat tinggalnya di samping meja tidurku sebelum beliau pergi. Namun aku tidak mau, aku tidak mau mencarinya, bukannya aku takut tersesat jika kesana, aku hanya takut sebagian mimpi terburuk tentang ayahku terwujud saat aku kesana.

Bertahun rasioku berkecamuk dengan perasaanku, untuk pergi atau tidak pergi ke tempat ayahku, Namun ayahku tidak pernah memaksaku kesana, walaupun ia pernah memintaku untuk tinggal bersama keluarganya. Semakin memikirkannya aku semakin sedih, karena mengingat betapa sedikitnya hal yang aku ketahui tentang ayahku.

Hal tersebut berbanding 1:10000 jika dibandingkan dengan pengetahuanku tentang desa ini. Aku mencintai tempat ini, lebih dari apapun sekarang, entah desa ini membawaku ke mana, namun desa ini tidak mengingatkanku tentang masalalu, karena sejak kecil yang kuanggap sebagai masalalu pun tetap menjadi masa sekarang, aku tidak pernah berpindah tempat dari desa ini, hal aneh namun memikat yang bahkan membuatku heran karena mampu memerintahku dan melupakan segala dilema yang ada untuk pergi menemui ayahku di kota.

Tidak ada satu hal pun yang dapat menggangguku untuk segala hal yang dapat aku miliki tentang desa ini. Kini aku mengabdi pada desa ini, dipagi hari aku akan melihat banyak orang beramai-ramai pergi ke ladang, anak-anak beramai-ramai menuju ‘gubuk’ yang kami jadikan sarana, dan di sore hari aku akan melihat anak-anak berlarian menyelamatkan diri dari rintik hujan yang kian menderas dibawah pelepah daun pisang menuju rumah mereka masing-masing. Aku seorang guru.

Aku mencintai desa ini, dengan semua hal yang ada didalamnya. Rumput ilalang yang kian tinggi, ladang yang kian ranum buah-buahannya, sawah yang kian menguning, dan sungai yang kian indah percik airnya. Begitu juga dengan penduduknya, yang selalu tersenyum dan bertegur sapa saat hari cerah dan tidak hujan. Dan bintang.

Segalanya. Sampai hati dan jiwa ini hilang diri mungkin raga ini hilang kendali. Hanya karena bertemu dengan dia. Dia yang bahkan bukan berasal dari desa ini. Bukan orang dengan profesi serupa denganku. Mengalihkanku akan bintang nan indah setiap malam, atau lembut rumput ilalang yang kian kering di hangat senja.

Kepala desa bilang ia kemari untuk merawat Bu Mestika, Ibu Mestika sudah tua, usianya hamper sepertiga abad, sepengetahuanku Ibu Mestika tidak perlu di tunggui setiap harinya, ia masih sehat di usia senja.  Ia tetanggaku yang paling dekat, Ibu Mestika sangat akrab dengan keluargaku. Sampai Kakek kemudian nenekku meninggalpun Bu Mestika lah yang selalu menemaniku. Sehingga aku seperti sekarang, gadis yang masih lajang, dan belum tahu dengan siapa ia seharusnya. Sampai aku bertemu dengannya.

Aku sendiri tidak pernah tahu jika Ibu Mestika memiliki seorang anak, apalagi cucu, yang membuat pengetahuanku tentang keluarga Ibu Mestika selesai sampai disitu, bahwa Ibu Mestika tidak punya keluarga, mungkin empat bulan lalu aku dapat menemani Ibu Mestika yang sebatang kara. Aku dan seorang wanita tua yang sama sekali tidak merepotkan hidup bersama-sama, dua orang wanita terpaut usia yang sebatang kara namun hidup berdampingan. Dan kepahitan dunia tidak akan menjadi masalah apapun bagi kami. Membayangkannya saja membuatku tersenyum, pikirku aku memiliki seorang teman untuk menjalani hidupku yang indah ini.

Sampai ada dirinya, yang menemani Ibu Mestika sepanjang hari, orang pertama yang kulihat dapat membuat Ibu Mestika memancarkan sorot mata penuh kasih sayang sarat rindu di matanya.

“Namanya Fardan, nak. Dia putra dari anak angkat ibu, jaga cucu ibu satu-satunya ya nak. Dia masih sungkan tinggal disini, tolong dia ‘Nak” begitu sahut ibu Mestika suatu waktu saat ia bersamaku. Setelah tersebar berita dari obrolan penduduk desa, bahwa pemuda bernama Fardan ini adalah putra dari anak angkat bu Mestika, suami Bu Mestika yang sudah lama meninggal saat aku masih kecil, ternyata memiliki anak angkat yang tinggal dikota, Bu Mestika memang tidak pernah memiliki keturunan. Namun anak angkat Bu Mestika tidak ada yang tinggal di desa ini, semuanya tinggal di kota. Cerita tinggal lah cerita, sampai pada saatnya semuanya terbukti sekarang, putra dari anak angkat Bu Mestika yang tinggal dikota telah tiba di desa ini.

Kami belum pernah bertegur sapa, apalagi bersenda gurau, temanku Indri adalah yang paling dekat dengannya, kurasa. Sehari setelah aku pertama kali melihatnya tiba di desa ini, ia keluar dari mobil yang di kendarainya, seorang diri. Aku terdiam di teras rumahku sambil membawa payung saat melihatnya terburu masuk ke dalam rumah Bu Mestika, hujan saat itu. Bu Mestika langsung menyambut cucunya tersebut dan mengajaknya masuk. Malamnya saat hujan sudah reda, langit belum kunjung cerah. Sehingga bintang yang kunantikan belum juga tampak. Payung yang kusiapkan untuknya mungkin hanya seonggok payung biasa yang tergeletak disudut ruangan. Sampai keesokan harinya ia berkeliling desa bersama Indri temanku, aku bahkan tidak memiliki kesempatan untuk berkenalan dengannya.

****

Setiap hari yang kulalui seharusnya menjadi hari yang biasa, hari yang menyenangkan dengan aroma tanah bekas hujan dimalam hari. Atau matahari yang benderang terik seperti biasanya saat pagi hari. Namun sejak kedatangannya di desa ini, aku merasakan hal yang tidak biasa.

Fardan akan membantu Bu Mestika, di ladang saat pagi hari, membantu memasukkan dendeng yang di jemur kedalam rumah menjelang sore, dan terkadang aku melihatnya kembali dari tajuk di desa kami selepas isya.

Kami tidak pernah bertemu secara langsung, aku hanya melihatnya dari teras rumahku. Pernah suatu saat ia memergokiku sedang melihatnya. Sebenarnya aku ragu, ia melihatku, atau melihat bunga yang sedang kurawat di halaman rumahku, saat bertemu pandang.. aku hanya menunduk malu, dan aku tidak tahu kelanjutannya, karena setelah itu yang aku lakukan adalah langsung masuk kerumahku.

Setelah hampir dua minggu aku menjalani rutinitasku seperti biasa, aku merasa risih untuk mengganti hal yang sedang kulakukan jika bertemu dengannya. Hingga akhirnya sepulang mengajar anak-anak. Aku bertemu dengannya di persimpangan jalan antara rumahku dan padang ilalang tempatku bermain semasa aku kecil. Hujan. Fardan. Untuk sesaat aku hanya terdiam melihatnya kehujanan, namun karena hanya aku yang membawa payung dan hanya ada aku pula disekitarnya, mau tak mau aku menghampirinya.Tapi tanpa aku sadari, ternyata aku tidak membawa payung. Payung yang aku kira bersemayam didalam tasku ternyata tidak ada, aku menjadi kikuk karena aku sudah hampir setengah jalan menuju tempatnya berada. Dengan berbagai pertimbangan selama beberapa saat, akhirnya aku menghampirinya. Tempatnya berada adalah gubuk tua yang sudah lama ditinggalkan namun masih ada atap untuk berteduh.

Ia tersenyum saat aku menghampirinya. Dengan kikuk ia memegang tas berisi sayuran dan mengelap tangannya yang terkena rintik hujan berkali-kali.
“Kamu tinggal di sebelah rumah nenekku ‘kan?” katanya mengawali percakapan.
“Iya,” aku hanya dapat mengatakan kata itu, karena aku bingung untuk bertanya apa padanya.
“Fardan” serunya memperkenalkan diri, tanpa menawarkan tangannya untuk disalami. Karena kedua tangannya sibuk mencari cari sesuatu didalam tas yang tengah ia pegang.


_Bersambung

Labels: , , , , , , , , , ,

Thursday, September 6, 2012

Fontana di piazza della Rotonda

Di sinilah ia, memandang iba dengan tak kasat mata ke atas langit biru tanpa satupun awan yang berarak. Menyipitkan mata antara ingin dan tak ingin, merasakan angin berhembus pelan tanpa memedulikan lalu lalang keramaian disekitarnya.  Di ujung Piazza della Rotonda, tepat di depan matanya Pantheon, di ujung matanya saat ia membuka mata, Pantheon, di setiap matanya berputar untuk mencari hal lain untuk dipandang, Pantheon. Disinilah tempat impian semasa kecilnya bergantung, tempat masa remajanya berakhir dengan melewati ujung jalan ini hampir 6 hari dalam seminggu, tempat awal usia kepala duanya dimulai. Luce.

“Luce” Ia menoleh ke arah pemilik suara yang memanggil nama itu.


“Kau sudah selesai? Ibu sudah menunggumu sejak empat puluh menit lalu. Ayo kuantar kau segera kesana ” Sahutnya sambil terburu-buru membantunya tanpa menatap tatapan kosong sang gadis berkursi roda.


Luce. Katanya parau, ia menatap sepasang orang yang sepertinya kakak beradik itu menghilang diujung jalan diantara keramaian hilir mudik pengunjung kompleks wisata Pantheon. Menghela nafas bukan hal yang selalu diinginkannya, bukan juga hal yang menjadi kebiasan naluriahnya. Hanya saja ia seperti mengenal gadis itu, selamanya. Ia mengetahui gadis bernama Luce itu sedari remaja. Gadis itu selalu berada di sekitar Pantheon, menghadap ke arah air mancur yang berada di seberang Pantheon. Melihat gadis itu terdiam tenang di dekat tiang penyangga paling kanan Pantheon saat ia hendak pulang sekolah, melihat gadis itu nekat turun dari kursi rodanya namun tidak berhasil disuatu akhir pekan yang penuh turis asing, menyaksikan gadis itu akhirnya berhasil duduk di pelataran Pantheon setelah tiga hari kemudian dengan cara kedua tangan sekaligus berpegangan erat ke tiang penyangga paling ujung. Atau bahkan melihat gadis tersebut menolong turis asia yang meminta bantuannya untuk memotret mereka dengan latar belakang air mancur Fontana di piazza della Rotonda.


Ya, yang selama ini dia tahu, gadis yang selalu di panggil Luce itu selalu menatap dengan berbagai ekspresi pada Fontana di piazza della Rotonda. Seperti seumur hidupnya, ia bagaikan menyaksikan Luce dengan berbagai aktivitas yang ia miliki dan dihabiskan di pelataran Pantheon selama berjam-jam lamanya, termenung menatap air mancur Fontana di piazza della Rotonda. Bertahun-tahun yang ia habiskan disepanjang jalanan ini, berangkat sekolah, membantu neneknya, mengantar kerabat dekat mengunjungi Pantheon, atau membeli makanan di seberang jalan. Tak pernah sekalipun Ia melihat Luce melewatkan harinya tanpa dihabiskan disana. Luce selalu ada disana, berdiam diri seperti orang yang jiwanya melayang entah kemana, atau menatap penuh semangat ke arah puncak air mancur itu.


Baru setelah bertahun-tahun ia lewati masa demi masa dari umur yang ia miliki, Ia baru menyadari betapa lembutnya Luce yang selalu setia menatap Fontana di piazza della Rotonda itu. Tatapan lembut matanya, gerak pelan tubuhnya, atau sayu senyum heningnya. Luce. Hanya satu kata yang ia tahu, Luce yang ini begitu setia, begitu nekat untuk berada disana, di seberang Fontana di piazza della Rotonda dan menatap air mancur itu entah karena sakit jiwa atau kelainan atau mungkin gadis itu memang tulus adanya.


Sekarang diawal usia dua puluhannya ia bermaksud menetap disini, kota dimana ia dibesarkan dari semasa kecil, kota tempat keluarganya tinggal, kota tempat kakek dan neneknya membesarkannya, kota tempat kakek dan neneknya meninggalkannya, kota tempat kakek dan neneknya dikuburkan di tempat peristirahatan terakhir. Kota seribu kenangan dengan kebesaran Pantheon, Coliseum, dan bahkan Fontana di piazza della Rotonda. Ia lalui hari-harinya yang masih dapat ia gapai, dengan melukis portrait para turis dengan sentuhan seni lukis yang ia miliki. Kadang saat jasa lukisnya sepi peminat, ia akan terbiasa dengan melukis kebesaran Pantheon, Kuil yang dipersembahkan untuk seluruh dewa dewi. Melukis setiap pilarnya dengan seksama, setiap detail pada kubah silindernya dari sisi dimana ia berada, oh Hadrian, andai kau tahu berapa banyak orang yang memuja karyamu saat ini. Di sini di sudut jalan dekat Fontana di piazza della Rotonda, seberang Pantheon, ia berlatih untuk melancarkan satu-satunya kemampuannya yang dapat membuatnya layak masuk Università degli Studi di Roma Tor Vergata.



***

Rambutnya hitam kecoklatan, semula selalu diikat, namun sekarang selalu diurai, ia berjaket sangat tebal di musim dingin. Kadang membawa beberapa batang coklat, dan menghabiskannya sendirian. Jika ia selesai dengan makanan dan minumannya, ia tersenyum ke arah air mancur itu. Seperti satu-satunya orang yang bahagia karena di dunia ini tuhan masih mengizinkan air mancur itu ada, seakan abadi, setidaknya untuk dirinya. Jika hujan salju tiba, ia tidak tahu apa yang terjadi pada Luce, karena ia sendiripun selalu berdiam diri dirumah saat cuaca beralih tidak mendukung.


Akhir-akhir ini Luce lebih mudah ditemui di sekitar pelataran Pantheon, namun Luce disana, jauh dari keramaian turis yang berlalu lalang seenaknya, tanpa ada rasa iba terhadap gadis berkursi roda di sudut pelataran. Luce lebih sering tersenyum sekarang, mungkin mengiba terhadap langit biru, atau lagi-lagi terhadap Fontana di piazza della Rotonda. Ya ampun, aku pasti lupa betapa naksirnya Luce pada air mancur ini, gumamnya suatu hari saat mengerjakan sebuah lukisan. Entah apa yang ada dipikiran Luce yang selalu menatap air mancur ini tanpa henti, dimana ia selalu merenung. Sepertinya jika ia menjadi Luce, ia akan memilih menatap Pantheon sebagai objek panorama yang disukainya, kuil dengan ribuan marmer berwarna-warni yang menghiasi lantainya dan kubah menjulang tinggi yang menempel kokoh dilangit-langit dalamnya. Ia tak habis pikir mengapa diantara ribuan air mancur diseluruh Italia, Luce sangat mengagumi Fontana di piazza della Rotonda.


Sedangkan  ia sangat mengagumi Pantheon.


***


Ia melukis Pantheon lagi, Pantheon yang sangat dikaguminya. Ia melukis dari sudut pandang yang berbeda setiap kalinya, sehingga setiap karya yang ia buat dari Pantheon, tidak ada yang pernah benar-benar serupa atau terlihat sama. Rambutnya hitam kecoklatan, jaketnya berwarna merah kali ini, senyumnya tulus, tatapannya hangat, terduduk diam di pelataran sudut Pantheon diatas… Kursi Roda?


Ia terkesiap dengan apa yang baru ia kerjakan, sudah hampir enam kali ia melukis Pantheon dengan Luce di dalamnya. Dan kali ini dengan detail yang lebih spesifik, dengan hati dan perasaan yang tetap tidak menyadari, namun panca indera yang lebih dulu sadar akan apa yang diinginkannya dan menuangkannya dalam lukisan tanpa meminta izin terlebih dahulu terhadap hati dan perasaan.


Luce, apakah kau bahkan tahu namaku? Pikirnya suatu waktu.



***


    Oh Pantheon,

    Oh Fontana di piazza della Rotonda,


    Kalian diciptakan berhadap-hadapan


    Satu sama lain.


    Dalam suatu waktu tanpa pengecualian,


    Akan kah semuanya mungkin terjadi,


    Sampai tak ada jarak di antara kalian?

Rambutnya hitam kecoklatan, jaketnya berwarna merah kali ini, senyumnya tulus, tatapannya hangat, namun ia tidak terduduk diam di pelataran sudut Pantheon dengan kursi roda. Karena aku mendorong kursi rodanya, ke sebuah tempat yang baru. Dengan tawa kecil yang dilontarkan sang pemilik kursi roda. Hei Nona, ini awal pertama aku melihatmu tersenyum saat meninggalkan pelataran Pantheon, kita semakin dekat ke seberang, agar kau bisa menggapai arak airnya seperti dirimu yang penuh cahaya, menuju Fontana di piazza della Rotonda.





Story and Illustration Copyright Hana Zainab Mukarromah

Labels: , , , , , , , , , , ,

Saturday, September 1, 2012

New Inception Project ~ Finding My own Sense in Literature (more)

And oh Yes, is it September already ? what would we gonna do with this blog ?
it's like an abandoned site, yeahs I've been spending so much time in my WordPress, tumblr, and deviantart, but not here.
Well, this could be the (again) inception. Delighted for the new rearranged templates I've been working for. Just love this teal like Green, OMG I fond Green so much 

My New Project here is?

Finding My own sense in literature (more),

Though I've been publishing poems and poetry so many times and publishing it in my WordPress, why ain't I try it here?
ind of,
Dari sejak Mts belajar bikin puisi, karena sebetulnya ada pelajaran balaghah. dan baru menyadari betapa luhurnya anak kelas 1 smp belajar mengetahui komponen-komponen dalam syair arab :| . Just, Oh God 

Probably, I like Literature so much, sastra things, puisi, pantun, novel sastra, syair, apapun mereka disebutnya maybe in reading side, not in writing side.
tapi, lambat laun sering juga ternyata membuat hal-hal semacam itu (unnoticedly)

so I kind of delighted to write some literature things,

My dream was about to own my own literature novel, and I know someday i'll make it come true.

Sedikit jadi mengenang saat-saat masih berada di Madrasah Tsanawiyyah, dan tentu saja karena project kali ini 'Finding My Own Sense in Literature (more)'

Akan saya coba dengan membuat sebuah cerpen.
September Birthstone, "Sapphire"
1432H Syawal 13





Labels: , , , , , , , ,