Tuesday, February 19, 2013

Di Bawah Bulan - Bagian ke empat




"Dua kali seminggu petugas dari kantor desa akan rutin mengontrol saluran irigasi yang bulan kemarin sempat tertimpa tanah longsor” paparnya padaku siang tadi.
Jadilah aku tahu pekerjaan apa yang hendak Fardan jemput ke desa ini. Dan betapa malunya aku saat mengetahui bahwa ia pasti lebih tahu banyak tentang tanaman obat yang ada di depan rumahku. Aku mengiba mengapa ia bahkan tidak berkata bahwa dirinya adalah lulusan dari jurusan pertanian.

Atau bahkan sejak awal saat kami membereskan kebun di belakang rumah nenek, aku tidak menyimak bahwa ia pernah mengatakan beberapa hal singkat tentang tingkat kesuburan tanah yang terhampar luas di desa ini.

Atau mungkin hanya diriku saja yang kurang memperhatikan setiap hal yang diucapkannya seminggu ini, aku yakin pernah mendengar banyak hal tentang ‘holtikultura’ darinya saat kami mengeringkan biji-biji cabai.

Aku pasti memperhatikan hal lain saat itu, entah itu suaranya, caranya berbicara, atau caranya menatap nenek yang tanpa lelah menyiapkan bebagai macam makanan untuk kami di siang hari.

Aku merasakan pikiranku mulai hilang fokus akhir-akhir ini. Asalkan di sekitarku ada dirinya, ia seolah secara otomatis menjadi hal paling utama untukku. Terlebih saat bayangan semu dirinya yang sering hadir di dalam mimpiku, menggantikan mimpi konstan tentang ayahku.
****

 “Ibuku bilang Fardan mau menetap disini,” seru Indri temanku.
“Berapa lama?” Tanya Rida membelalak ingin tahu.
“Mmm, mungkin selamanya” jawabnya lagi riang sambil mengangkat bahu.

Aku berpikir mungkin Fardan akan memberitahuku jika saja aku tanyakan padanya tentang kepastiannya tinggal di desa ini.

Dan aku tidak akan memikirkan hal yang lebih jauh lagi setelah mendengar percakapan Indri dan Rida di depan koperasi tadi. Tentu hal yang tidak mungkin kulakukan, aku takut Fardan berpikir aku terlalu ikut campur pada urusannya. Tidak akan. Tidak akan pernah kutanyakan hal-hal yang sekiranya akan mengganggu dan terkesan mencampuri urusan pribadinya. Akan kututup rapat saja rasa penasaran ini. Sampai disaat ia akan memberitahuku dengan sendirinya.

****

“Fardan, kau akan tinggal di desa ini berapa lama?” aku melongo mendengar suaraku yang tanpa izin keluar begitu saja dari mulutku.  Aku menyentuh pipiku yang pasti memerah malu. Dan kini akibatnya ia menghentikan aktivitasnya, kemudian membalikkan sepenuhnya badannya kearahku.

“Mungkin, lebih lama lagi. Kenapa , Aruna ?” sahutnya sambil menyimpan tang tanaman yang tadinya sedang ia gunakan di teras depan rumah nenek.

Aku mengerjap tanda tak sabar menyudahi pembicaraan ini, tapi lagi-lagi sebuah suara tak asing yang tanpa izin ini keluar begitu saja dari mulutku.

“Aku hanya penasaran, dengan yang akan kau lakukan di desa ini, dalam jangka panjang.. sambil .. selain tinggal bersama nenek” aku tertahan mendengar suaraku sendiri. Dan tidak sempat berpikir apa reaksi selanjutnya yang akan Fardan katakan.
Ia menatapku curiga, menyibak bagian atas rambutnya lalu duduk di teras di depan tempatku berdiri.

“Hei Aruna, itu kalimat paling panjang yang pernah kau katakan saat berbicara denganku” ujarnya tersenyum.

Satu tarikan nafas. Satu tarikan nafas bahkan, kalimat tanpa izin yang kau maksud itu keluar dari mulutku dalam satu tarikan nafas.

”Melakukan hal yang sangat ingin kulakukan sejak lama” ujarnya santai lalu tersenyum lama sambil menatapku.

****

Entah apa yang aku lakukan terhadap pikiranku. Kadang ia berjalan tidak sesuai dengan keinginanku.

Dan aku tanpa sengaja membiarkan pikiranku terbuka, mulai dari senyum atau gerakan riang yang rasanya tidak perlu kulakukan.

Sampai percakapan atau pertanyaan yang tidak pernah aku rencanakan sebelumnya.
Jika ini tentang cinta, kau lebih baik membiarkannya terjadi tanpa harus merencanakannya terlebih dahulu.
Hana Zainab Mukarromah Web Developer

I am a programming teacher who lived in Bandung, pluviophile nephelolater, oneironaut, writer, blogger, muslimah for a living