Saturday, January 26, 2013

Di Bawah Bulan - Bagian Ketiga





"Kamu lebih cocok jadi cucu dari nenekku ketimbang aku sendiri" ia menoleh dengan tatapan penuh tanya kearahku. Aku hanya terdiam sesaat dan tersenyum kearahnya. Kami sedang membuat bubur sumsum. Makanan yang sangat disukai Bu Mestika. Yang sekaligus sangat baik untuk kesehatan pencernaannya.

"Kenapa kamu tidak pernah memanggilnya dengan sebutan nenek?"
"Karena beliau tidak pernah meminta" jawabku kemudian.
"Kamu lain"
"Lain apa?"
"Sangat santai sekaligus peduli terhadap segala hal" aku berhenti sejenak untuk mengiba. Tanpa sadar pasti pipiku sudah memerah karena malu. "Maaf merepotkan, hanya saja pasti nenekku sangat senang jika memiliki cucu sepertimu"
"Tanpa harus menjadi cucu nya pun aku akan tetap membantunya" ujarku lirih.

Sisa sore itu kami habiskan dengan berbincang-bincang. Dan aku akan memandang ke arah lain jika merasa ia menyanjungku. Menghindari tatapannya yang seakan geli melihat pipiku yang merah padam. Fardan berkata bahwa ia sedang menunggu masa wisudanya dengan tinggal di desa yang sarat dengan cerita orang tuanya yang pernah tinggal disini. Mengenai orangtuanya yang menjadi anak angkat Bu Mestika dan Pak Zakir, Fardan berkata bahwa telah lama sekali keluarga mereka menetap di kota. Ibunya telah meninggal dan merupakan anak angkat dari Ibu Mestika. Sejak menikah, ibunya tidak pernah kembali ke desa ini. 

Melainkan sekarang anaknyalah yang mengunjungi neneknya kemari. Itupun karena satu hal, ia mendapatkan tawaran pekerjaan di kantor dinas pertanian di daerah kami. Dengan tanpa sengaja ia hendak mencari orang tua angkat ibunya yang tinggal di desa ini. Ia berkata pula bahwa mungkin akan menetap di desa ini jika tawaran pekerjaan yang datang padanya ia terima.

Aku pasti memimpikan fiksi. Jika ternyata hal yang kemarin terjadi adalah bukan kenyataan, maka aku memilih untuk bermimpi dalam setiap nafas fiksi yang terjadi.
***

Mungkin entah langit di setiap malam yang akhir-akhir ini terlihat selalu cerah dengan dihadiri bintang, atau angin semilir yang tengah datang disetiap kunjunganku ke padang ilalang, bahkan hujan yang turun secara perlahan di setiap kala. Dan garis lengkung menandakan senyuman yang sering terjadi pada bibirku. Atau kupu-kupu yang kau rasa terbang kian kemari didalam perutmu. Jika memimpikinnya saja dapat membuatmu bahagia, aku pasti benar-benar tertidur dan terbangun lagi di dalam dunia fiksi. Rasanya setiap hari mulai hari itu seperti bukan kenyataan, namun tiap kali aku tersadar dan berdo’a, semuanya adalah kenyataan. 

Aku dapat menemui setiap orang yang bahkan ingin kutemui, tersenyum terhadap hal-hal sepele, atau bahkan menertawakan hal yang kurang lucu. Aku mungkin gila, gadis gila yang tinggal didalam dunia fiksi. Aku mencubit pipiku sendiri saat kutemukan diriku mulai berjalan salah arah melewatkan jalan menuju rumah. Dan tertawa begitu keras sesampainya dirumahku. Rumah yang sepi seperti biasanya, tanpa ada suara yang dapat timbul kecuali yang dibuat oleh aktivitasku, hari ini aku akan mengunjungi kediaman Ibu Mestika. Nenek. Aku memanggilnya nenek sejak dua minggu lalu aku merawatnya, ia sendiri yang meminta. Akupun tidak tahu mengapa, yang pasti saat aku tanyakan hal tersebut pada Fardan, ia benar tidak tahu apa-apa tentang hal itu. Begitulah aktivitasku selama dua minggu ini, sehabis rutinitasku, pasti aku akan mengunjungi rumah nenek yang dekat saja, karena memang bersebelahan dengan rumahku.

Seminggu sejak keadaan nenek pulih dan sehat seperti semula, mulai sejak itu kami melakukan berbagai rutinitas seperti biasanya bertahun kami lakukan sejak kakek dan nenekku meninggal. Namun kali ini, bertambah satu anggota lagi, yaitu Fardan. Disela-sela aktivitasnya membangun sebuah taman di belakang rumah nenek, ia selalu membantu kami membuat berbagai makanan atau bahkan terkadang memperhatikan nenek membuat sulaman namun tidak pernah mau untuk membuatnya sendiri. Nenek pun kini lebih sering tertawa, begitu juga aku, yang frekuensi tersenyumnya kian bertambah. Entah mengapa jika aku tidak memiliki perasaan pada Fardan pun rasanya aku akan tetap senang melihatnya tinggal di desa ini. Mengenai persaanku padanya pun, masih dan tidak akan pernah ada yang tahu selain aku. Aku benar-benar tidak pernah membicarakan mengenai perasaanku pada siapapun sampai saat ini. Aku terlalu takut, dan terlalu sungkan untuk menerka bahwa ia pun memiliki perasaan yang sama denganku. Walaupun hampir setiap hari kami selalu bertemu. Aku tidak dapat menerjemahkan hal-hal baik yang ia lakukan padaku merupakan hal yang lebih dari sekedar batas lumrah. Maka tanpa memikirkannya pun segalanya berjalan seperti semestinya, seperti seharusnya yang terjadi sesuai rasa engganku untuk ketahuan perasaanku olehnya.

Namun sekarang, Ia tertawa setiap kali aku melakukan kesalahan. Dan aku akan dibela nenek walaupun ia melihat kecerobohanku. Aku sama sekali tidak mengira menyukainya akan semenyenangkan ini. Kadang kami akan bertukar pembicaraan atau sekedar bertukar lelucon konyol yang membuatnya tertawa setelah tiga detik kemudian. Rasanya segalanya terasa lebih mudah di siang hari saat kami bertemu. Ketimbang mimpi malam hari yang sering melandaku dan keadaan penuh peluh dan rasa cemas ketika bangun. Tapi tidak apa-apa, sepanjang apa yang kulakukan di siang hari menyenangkan. Sebenarnya aku takut untuk tidur. Karena setiap kali aku tidur aku akan memimpikan hal yang sama, bayangan yang menggambarkan masa lalu atas perginya ayahku yang belum kembali. Bayangan yang sangat kurindukan namun tergambar sebagai mimpi buruk yang menghantui. Satu satunya bayangan manusia yang sangat kurindukan karena dengan keberadaannya akan membuatku sadar bahwa di dunia ini aku tidak sebatang kara. Namun untuk pertama kalinya diantara mimpi-mimpi statisku, selama berminggu-minggu aku tidak memimpikan ayah. Aku memimpikan fardan . Yang entah kenapa mampir ke dalam lamunan semu hampir di setiap malam yang ku lalui.


****
Hana Zainab Mukarromah Web Developer

I am a programming teacher who lived in Bandung, pluviophile nephelolater, oneironaut, writer, blogger, muslimah for a living