Wednesday, April 17, 2013

Today I will be happy


Today I will be happy
For every single breath You give to me
Today I will be happy
For every second I wake in the very first morning
Today I will be happy
For every vision so I could see things through my eyes
Today I will be happy
For every voice, sound even noise so that I can hear many things properly
Today I will be happy
For every reason I ever had for being glad enough to see my lovable person
Today I will be happy
For having such a gorgeous Mother and Father in my life
Today I will be happy
To accept all the love You give to me through my family and friends
Today I will be happy
For every knowledge You teach me through my teachers
Today I will be happy
For every chance You give me through this day all along
Today I will be happy
For getting home early or late and there’s my family waiting
Today I will be happy
For every syukur, and du’a that I can beg to You every time
Today I will be happy
For every piece of Iman, faith and Tauhid that You planted in my soul
Today I will be happy
For every precious time You give to our nation with no war but peace
Today I will be happy
To had a really nice chance even I have so many mistakes
Today I will be happy
For having such a tough trial but still can survive
Today I will be happy
For having no regret but moving forward
Today I will be happy
For having You, The Almighty
Today I will be happy
Maybe I was upset, broken and fragile, but You still shine the way
Today I have to be happy
If tomorrow I still had these feeling, it’s all enough. Although I look like have nothing but sorrow
Today I should be happy
There’s nothing in this life I have to worry, to have all the love from You
Hari ini aku akan bahagia
Untuk setiap tarikan nafas yang Engkau berikan padaku
Hari ini aku akan bahagia
Untuk setiap detik saat aku bangun di awal pagi
Hari ini aku akan bahagia
Untuk setiap penglihatan sehingga aku dapat melihat banyak hal melalui mataku
Hari ini aku akan bahagia
Untuk setiap suara, bunyi, bahkan kebisingan sehingga aku dapat mendengar banyak hal dengan baik
Hari ini aku akan bahagia
Untuk setiap alasan yang ada dan untuk menjadi cukup bahagia dengan menyaksikan orang yang kusayangi
Hari ini aku akan bahagia
Untuk memiliki Ayah dan Ibu yang begitu luar biasa baik
Hari ini aku akan bahagia
Untuk menerima semua cinta yang telah Engkau berikan padaku melalui keluarga dan teman-teman
Hari ini aku akan bahagia
Untuk setiap ilmu pengetahuan yang Engkau ajarkan padaku melalui guru-guruku
Hari ini aku akan bahagia
Untuk setiap kesempatan yang Engkau berikan seharian ini
Hari ini aku akan bahagia
Untuk pulang kembali ke rumah di waktu awal atau terlambat lalu keluargaku masih di sana menungguku
Hari ini aku akan bahagia
Untuk setiap Syukur, dan du’a yang dapat aku panjatkan kepadaMu setiap saat
Hari ini aku akan bahagia
Untuk setiap Iman, kepercayaan dan Tauhid kepadaMu yang Engkau tanamkan pada jiwaku
Hari ini aku akan bahagia
Untuk setiap waktu berharga yang Engkau berikan terhadap bangsa kami tanpa peperangan namun kedamaian
Hari ini aku akan bahagia
Untuk memiliki kesempatan yang begitu bagus meski aku memiliki banyak kesalahan
Hari ini aku akan bahagia
Untuk mendapatkan cobaan yang begitu berat namun masih dapat bertahan
Hari ini aku akan bahagia
Untuk tidak memiliki penyesalan namun melangkah kedepan
Hari ini aku akan bahagia
Untuk memilikimu, Duhai Sang Maha Kuasa
Hari ini aku akan bahagia
Mungkin aku kecewa, hancur dan rapuh, namun Engkau masih menerangi jalanku
Hari ini aku bahagia
Jika esok aku masih memiliki perasaan ini, maka semua hal ini cukup. Meski aku terlihat seperti tidak memiliki apapun di hadapan manusia kecuali kepedihan.
Hari ini aku harus bahagia
Tidak ada satupun di dunia ini yang pantas aku khawatirkan, untuk memiliki Cinta, dariMu.
- والله اعلم -

Labels: , , , , , ,

Friday, March 22, 2013

Merindukan Setapak


Merindukan Setapak


Dirimu , wahai seseorang , kelak akan menjadi panutanku sepanjang perjalanan hidupku.
Aku mendambamu , sorot cahaya , menyinari luas seluas langkah yang aku ambil
Aku menantikanmu , lantunan indah dalam setiap nafas duniawiku .
Aku membelamu , bukan hanya untuk aku , jika harus melupakan kenangan dan memilihmu .
Dirimu , seseorang .
Kemana kau pergi , kapan kau kembali , kapan kau tiba , kapan kau menjemput , kapan kau terjemput . Duhai masa depan .
image

Labels: , , , , , , , , ,

Tuesday, February 19, 2013

Di Bawah Bulan - Bagian ke empat



"Dua kali seminggu petugas dari kantor desa akan rutin mengontrol saluran irigasi yang bulan kemarin sempat tertimpa tanah longsor” paparnya padaku siang tadi.
Jadilah aku tahu pekerjaan apa yang hendak Fardan jemput ke desa ini. Dan betapa malunya aku saat mengetahui bahwa ia pasti lebih tahu banyak tentang tanaman obat yang ada di depan rumahku. Aku mengiba mengapa ia bahkan tidak berkata bahwa dirinya adalah lulusan dari jurusan pertanian.

Atau bahkan sejak awal saat kami membereskan kebun di belakang rumah nenek, aku tidak menyimak bahwa ia pernah mengatakan beberapa hal singkat tentang tingkat kesuburan tanah yang terhampar luas di desa ini.

Atau mungkin hanya diriku saja yang kurang memperhatikan setiap hal yang diucapkannya seminggu ini, aku yakin pernah mendengar banyak hal tentang ‘holtikultura’ darinya saat kami mengeringkan biji-biji cabai.

Aku pasti memperhatikan hal lain saat itu, entah itu suaranya, caranya berbicara, atau caranya menatap nenek yang tanpa lelah menyiapkan bebagai macam makanan untuk kami di siang hari.

Aku merasakan pikiranku mulai hilang fokus akhir-akhir ini. Asalkan di sekitarku ada dirinya, ia seolah secara otomatis menjadi hal paling utama untukku. Terlebih saat bayangan semu dirinya yang sering hadir di dalam mimpiku, menggantikan mimpi konstan tentang ayahku.
****

 “Ibuku bilang Fardan mau menetap disini,” seru Indri temanku.
“Berapa lama?” Tanya Rida membelalak ingin tahu.
“Mmm, mungkin selamanya” jawabnya lagi riang sambil mengangkat bahu.

Aku berpikir mungkin Fardan akan memberitahuku jika saja aku tanyakan padanya tentang kepastiannya tinggal di desa ini.

Dan aku tidak akan memikirkan hal yang lebih jauh lagi setelah mendengar percakapan Indri dan Rida di depan koperasi tadi. Tentu hal yang tidak mungkin kulakukan, aku takut Fardan berpikir aku terlalu ikut campur pada urusannya. Tidak akan. Tidak akan pernah kutanyakan hal-hal yang sekiranya akan mengganggu dan terkesan mencampuri urusan pribadinya. Akan kututup rapat saja rasa penasaran ini. Sampai disaat ia akan memberitahuku dengan sendirinya.

****

“Fardan, kau akan tinggal di desa ini berapa lama?” aku melongo mendengar suaraku yang tanpa izin keluar begitu saja dari mulutku.  Aku menyentuh pipiku yang pasti memerah malu. Dan kini akibatnya ia menghentikan aktivitasnya, kemudian membalikkan sepenuhnya badannya kearahku.

“Mungkin, lebih lama lagi. Kenapa , Aruna ?” sahutnya sambil menyimpan tang tanaman yang tadinya sedang ia gunakan di teras depan rumah nenek.

Aku mengerjap tanda tak sabar menyudahi pembicaraan ini, tapi lagi-lagi sebuah suara tak asing yang tanpa izin ini keluar begitu saja dari mulutku.

“Aku hanya penasaran, dengan yang akan kau lakukan di desa ini, dalam jangka panjang.. sambil .. selain tinggal bersama nenek” aku tertahan mendengar suaraku sendiri. Dan tidak sempat berpikir apa reaksi selanjutnya yang akan Fardan katakan.
Ia menatapku curiga, menyibak bagian atas rambutnya lalu duduk di teras di depan tempatku berdiri.

“Hei Aruna, itu kalimat paling panjang yang pernah kau katakan saat berbicara denganku” ujarnya tersenyum.

Satu tarikan nafas. Satu tarikan nafas bahkan, kalimat tanpa izin yang kau maksud itu keluar dari mulutku dalam satu tarikan nafas.

”Melakukan hal yang sangat ingin kulakukan sejak lama” ujarnya santai lalu tersenyum lama sambil menatapku.

****

Entah apa yang aku lakukan terhadap pikiranku. Kadang ia berjalan tidak sesuai dengan keinginanku.

Dan aku tanpa sengaja membiarkan pikiranku terbuka, mulai dari senyum atau gerakan riang yang rasanya tidak perlu kulakukan.

Sampai percakapan atau pertanyaan yang tidak pernah aku rencanakan sebelumnya.
Jika ini tentang cinta, kau lebih baik membiarkannya terjadi tanpa harus merencanakannya terlebih dahulu.

Labels: , , , , , , , , , , , ,

Saturday, January 26, 2013

Di Bawah Bulan - Bagian Ketiga




"Kamu lebih cocok jadi cucu dari nenekku ketimbang aku sendiri" ia menoleh dengan tatapan penuh tanya kearahku. Aku hanya terdiam sesaat dan tersenyum kearahnya. Kami sedang membuat bubur sumsum. Makanan yang sangat disukai Bu Mestika. Yang sekaligus sangat baik untuk kesehatan pencernaannya.

"Kenapa kamu tidak pernah memanggilnya dengan sebutan nenek?"
"Karena beliau tidak pernah meminta" jawabku kemudian.
"Kamu lain"
"Lain apa?"
"Sangat santai sekaligus peduli terhadap segala hal" aku berhenti sejenak untuk mengiba. Tanpa sadar pasti pipiku sudah memerah karena malu. "Maaf merepotkan, hanya saja pasti nenekku sangat senang jika memiliki cucu sepertimu"
"Tanpa harus menjadi cucu nya pun aku akan tetap membantunya" ujarku lirih.

Sisa sore itu kami habiskan dengan berbincang-bincang. Dan aku akan memandang ke arah lain jika merasa ia menyanjungku. Menghindari tatapannya yang seakan geli melihat pipiku yang merah padam. Fardan berkata bahwa ia sedang menunggu masa wisudanya dengan tinggal di desa yang sarat dengan cerita orang tuanya yang pernah tinggal disini. Mengenai orangtuanya yang menjadi anak angkat Bu Mestika dan Pak Zakir, Fardan berkata bahwa telah lama sekali keluarga mereka menetap di kota. Ibunya telah meninggal dan merupakan anak angkat dari Ibu Mestika. Sejak menikah, ibunya tidak pernah kembali ke desa ini. 

Melainkan sekarang anaknyalah yang mengunjungi neneknya kemari. Itupun karena satu hal, ia mendapatkan tawaran pekerjaan di kantor dinas pertanian di daerah kami. Dengan tanpa sengaja ia hendak mencari orang tua angkat ibunya yang tinggal di desa ini. Ia berkata pula bahwa mungkin akan menetap di desa ini jika tawaran pekerjaan yang datang padanya ia terima.

Aku pasti memimpikan fiksi. Jika ternyata hal yang kemarin terjadi adalah bukan kenyataan, maka aku memilih untuk bermimpi dalam setiap nafas fiksi yang terjadi.
***

Mungkin entah langit di setiap malam yang akhir-akhir ini terlihat selalu cerah dengan dihadiri bintang, atau angin semilir yang tengah datang disetiap kunjunganku ke padang ilalang, bahkan hujan yang turun secara perlahan di setiap kala. Dan garis lengkung menandakan senyuman yang sering terjadi pada bibirku. Atau kupu-kupu yang kau rasa terbang kian kemari didalam perutmu. Jika memimpikinnya saja dapat membuatmu bahagia, aku pasti benar-benar tertidur dan terbangun lagi di dalam dunia fiksi. Rasanya setiap hari mulai hari itu seperti bukan kenyataan, namun tiap kali aku tersadar dan berdo’a, semuanya adalah kenyataan. 

Aku dapat menemui setiap orang yang bahkan ingin kutemui, tersenyum terhadap hal-hal sepele, atau bahkan menertawakan hal yang kurang lucu. Aku mungkin gila, gadis gila yang tinggal didalam dunia fiksi. Aku mencubit pipiku sendiri saat kutemukan diriku mulai berjalan salah arah melewatkan jalan menuju rumah. Dan tertawa begitu keras sesampainya dirumahku. Rumah yang sepi seperti biasanya, tanpa ada suara yang dapat timbul kecuali yang dibuat oleh aktivitasku, hari ini aku akan mengunjungi kediaman Ibu Mestika. Nenek. Aku memanggilnya nenek sejak dua minggu lalu aku merawatnya, ia sendiri yang meminta. Akupun tidak tahu mengapa, yang pasti saat aku tanyakan hal tersebut pada Fardan, ia benar tidak tahu apa-apa tentang hal itu. Begitulah aktivitasku selama dua minggu ini, sehabis rutinitasku, pasti aku akan mengunjungi rumah nenek yang dekat saja, karena memang bersebelahan dengan rumahku.

Seminggu sejak keadaan nenek pulih dan sehat seperti semula, mulai sejak itu kami melakukan berbagai rutinitas seperti biasanya bertahun kami lakukan sejak kakek dan nenekku meninggal. Namun kali ini, bertambah satu anggota lagi, yaitu Fardan. Disela-sela aktivitasnya membangun sebuah taman di belakang rumah nenek, ia selalu membantu kami membuat berbagai makanan atau bahkan terkadang memperhatikan nenek membuat sulaman namun tidak pernah mau untuk membuatnya sendiri. Nenek pun kini lebih sering tertawa, begitu juga aku, yang frekuensi tersenyumnya kian bertambah. Entah mengapa jika aku tidak memiliki perasaan pada Fardan pun rasanya aku akan tetap senang melihatnya tinggal di desa ini. Mengenai persaanku padanya pun, masih dan tidak akan pernah ada yang tahu selain aku. Aku benar-benar tidak pernah membicarakan mengenai perasaanku pada siapapun sampai saat ini. Aku terlalu takut, dan terlalu sungkan untuk menerka bahwa ia pun memiliki perasaan yang sama denganku. Walaupun hampir setiap hari kami selalu bertemu. Aku tidak dapat menerjemahkan hal-hal baik yang ia lakukan padaku merupakan hal yang lebih dari sekedar batas lumrah. Maka tanpa memikirkannya pun segalanya berjalan seperti semestinya, seperti seharusnya yang terjadi sesuai rasa engganku untuk ketahuan perasaanku olehnya.

Namun sekarang, Ia tertawa setiap kali aku melakukan kesalahan. Dan aku akan dibela nenek walaupun ia melihat kecerobohanku. Aku sama sekali tidak mengira menyukainya akan semenyenangkan ini. Kadang kami akan bertukar pembicaraan atau sekedar bertukar lelucon konyol yang membuatnya tertawa setelah tiga detik kemudian. Rasanya segalanya terasa lebih mudah di siang hari saat kami bertemu. Ketimbang mimpi malam hari yang sering melandaku dan keadaan penuh peluh dan rasa cemas ketika bangun. Tapi tidak apa-apa, sepanjang apa yang kulakukan di siang hari menyenangkan. Sebenarnya aku takut untuk tidur. Karena setiap kali aku tidur aku akan memimpikan hal yang sama, bayangan yang menggambarkan masa lalu atas perginya ayahku yang belum kembali. Bayangan yang sangat kurindukan namun tergambar sebagai mimpi buruk yang menghantui. Satu satunya bayangan manusia yang sangat kurindukan karena dengan keberadaannya akan membuatku sadar bahwa di dunia ini aku tidak sebatang kara. Namun untuk pertama kalinya diantara mimpi-mimpi statisku, selama berminggu-minggu aku tidak memimpikan ayah. Aku memimpikan fardan . Yang entah kenapa mampir ke dalam lamunan semu hampir di setiap malam yang ku lalui.


****

Labels: , , , , , , , , , , , ,

Friday, January 25, 2013

Di Bawah Bulan - Bagian kedua

“Fardan” serunya memperkenalkan diri, tanpa menawarkan tangannya untuk disalami. Karena kedua tangannya sibuk mencari cari sesuatu didalam tas yang tengah ia pegang.
“Aruna”
“Apa?”
“Namaku Aruna” seruku lebih keras.
“Namamu.. ”
“Baru pertama kali dengar? Atau masih asing?” tanyaku tersenyum, hal biasa yang aku hadapi sejak kecil. Awalnya mereka asing dengan namaku. Namun karena aku tidak pernah pergi dari desa ini, pasti mereka tidak asing lagi dengan namaku. Kecuali pemuda di depan ku yang satu ini.
”Bukan, aku biasa mendengar tentang dirimu dari nenekku, tapi terasa berbeda saat kamu yang menyebutnya” serunya. Aku tidak mengerti apa maksudnya, aku hanya tersenyum sewajarnya. Dan kembali terdiam menghadap hujan untuk berhenti. Sempat hening, mungkin sebenarnya aku yang giliran berbicara, karena aku yang terakhir diberi pernyataan. Tapi aku terlalu kalut untuk mengatakan sesuatu. Ini jauh lebih sulit jika dibandingkan dengan saat mengajar atau bersosialisasi dengan warga desa. Sangat sulit.
“Aruna” katanya lagi. Aku hanya menoleh padanya, sulit untuk terfokus memandang kearahnya, apalagi saat terasa ada kupu-kupu di dalam perutmu yang menggelitik untuk keluar setiap kali mendengarnya menyebut namamu.”Hujan sudah agak reda, ayo kita kembali” sahutnya.
***

Terdiam melihat ranting yang patah terinjak, tergeletak ditengah padang rumput lembap. Sudah dua hari sejak terakhir kali aku bertemu Fardan di ujung jalan yang diguyur hujan. Saat itu aku sampai dirumah dengan penuh rasa heran, heran karena saat ia mengajakku beranjak pergi dari sana, ternyata ia membawa payung. Payungku. Entah dari mana ia mendapatkannya. Aku hanya mengerjap melihatnya membentangkan payung itu, berbagi payung denganku. Pada keheningan hujan yang konstan tanpa percakapan manusia. Sampai akhirnya di depan rumahku, ia menyerahkan payung itu seraya berkata “Payung ini sepertinya terjatuh dijalan saat kau pergi, aku menunggumu di jalan tadi karena aku pikir kalau kau pulang pasti lewat sana”. Jelasnya, setelah berterimakasih dan ia pun berpamitan, aku menyentuh perutku yang menahan kupu-kupu yang ingin keluar. Jadi, cucu Ibu Mestika yang tinggal di kota ini, membantu neneknya di desa membelikan sayuran ke pasar dengan pulang pergi berjalan kaki, menemukan sebuah payung dengan tag-name ‘Aruna’ dan menungguku pulang di seberang jalan tanpa menggunakan payung itu untuknya sendiri. Ajaib, bukan ?
***

Jika di dunia ini manusia dapat menghitung seluruh bintang di alam semesta, atau melakukan teleportasi dengan sekejap mata, tentu manusia tidak akan berusaha keras untuk mendapatkan sebuah kesempatan. Kalau saja di dunia ini manusia diberi kemauan sedapat-dapatnya. Tentu tidak akan ada sebuah koinsidensi bernama 'kebetulan'. Daya pikir manusia berawal dari melihat suatu hal yang kecil terlebih dahulu. Seperti disaat sebuah 'kebetulan' datang, manusia akan berpikir bahwa disaat kau menemukan seorang yang berarti untukmu, itulah yang dinamakan 'kebetulan'. Tanpa peduli mungkin yang sang pencipta maksud adalah 'takdir'

Jika kapasitas manusia hanyalah berharap, maka segala yang dapat terjadi adalah kuasa tuhan.

Aku menyerah akan apa yang tuhan karuniakan padaku, sehingga tanpa kusadari rasa yang kumiliki terasa sakit tak berarah.

Aku menyukai dia, tanpa ada yang menyadari, satu-satunya yang menyadari perasaanku padanya hanyalah rasa rendah diriku. Rasa rendah diriku terlalu menguasai diriku sehingga mengungkapkan hal yang sesungguhnya kurasakan adalah mustahil.

Fardan datang ke desa ini tanpa ada yang tahu alasannya kenapa. Berbagai berita yang simpang siur wara-wiri di desa hanyalah bahwa pemuda ini menghabiskan waktu liburannya dengan mengunjungi neneknya.

Mungkin beberapa orang tidak peduli dengan alasan tersebut. Karena berapa lamapun ia tinggal disini, sama sekali tidak menjadi masalah untuk warga desa. Mereka menyukai cucu Ibu Mestika itu. Fardan mudah bergaul dan dapat bercakap-cakap dengan siapa saja.  Tanpa sadar ia telah menghabiskan satu bulan 'liburan' nya di desa ini.

Aktivitasnya di desa yang belum berkembang seperti kebanyakan warga di desa membuatnya memiliki banyak waktu luang. Di sore hari jika tidak hujan ia akan keluar melihat anak-anak bermain di lapangan. Kadang aku melihatnya bermain bersama anak-anak. Suatu pemandangan asing di desa kami, mengingat hanya segelintir kawula muda saja yang ada di desa ini. Seperti yang pernah kubilang, bahwa orang orang seusia remaja di desaku sudah pergi ke kota untuk mencari mata pencaharian yang menurut mereka lebih baik dari pada bertani.

Sehingga memiliki orang dewasa yang mengajak anak-anak bermain bersama adalah sebuah kegembiraan bagi mereka.

Tanpa sadar aku merasa kesepian.

Untuk pertama kalinya aku dapat merasakan rasa bahagia saat dapat menemui orang yang kau sukai setiap harinya. Namun kesepian. Karena aku selalu menghindar darinya setiap saat, melihat tawanya dari kejauhan dan merasa lega saat menyadari aku tidak ketahuan sedang memperhatikannya. Aku melakukannya semata-mata untuk kebaikan semua orang.
Aku menyukai Fardan.

Begitu juga setiap gadis yang masih ada di desa ini. Setiap gadis berlomba untuk mendapatkan perhatiannya, setiap hari. Aku bukannya mengaku lebih rendah dari mereka. Kurasa kami berada di lingkungan yang sama, tumbuh dewasa bersama-sama yang membedakan hanyalah silsilah keluargaku yang tidak murni berasal dari desa ini. Dan keadaanku yang kini. Sebatang kara.

Gadis-gadis di desa tentu mendapat segala dukungan dari ayah dan ibu mereka untuk mendapatkan simpati Fardan. Segala hal. Aku bahkan pernah memergoki Ibunya Indri membeli banyak sekali perangkat kosmetik, aku tahu itu bukan untuknya. Tapi untuk Indri. Indri sahabat sejak kecilku yang sama sekali tidak pernah senang menggunakan pakaian layaknya anak perempuan. Aku tahu persis hal itu. Namun siapa sangka, jika cinta mengetuk segalanya akan berubah, dan aku tahu bahwa setiap sahabat wanitaku di desa ini telah jatuh cinta padanya. Fardan.

"Aruna" aku mendongak melihat orang yang sedang berdiri di depanku. Untuk sesaat wajahnya tidak jelas terlihat karena bias matahari yang pekat ditengah siang. Fardan. Aku segera menyimpan parang yang sedang kupakai untuk mencabut rumput di kebunku dan langsung berdiri.
"Ya ?" sahutku. Aduh, bisakah lebih dari sekedar ya?
"Nenekku demam dan tidak mau makan, bisa kau bujuk dia?"
Aku mengerutkan dahi dan langsung menuju ke rumahnya tanpa berkata apapun lagi. Jadi itu alasannya mengapa Bu Mestika tidak keluar rumah sejak kemarin. Aku marah padanya. Kalau memang Bu Mestika sakit kenapa Fardan tidak bilang dari kemarin? Pikirku cucunya ini dapat menangani keluhan sakit neneknya ini.

Aku menyentuh dahi Bu Mestika, panas. Ia menggigil dalam selimut tanpa sadar bahkan untuk melihatku datang mengunjunginya. Sebelum Fardan datang ke desa ini aku biasa menghabiskan waktu bersama Bu Mestika. Ia sudah seperti nenekku sendiri. "Bu Mestika hanya butuh istirahat. Makan makanan yang mudah dicerna, dan mandi air hangat setiap kali ingin mandi" celotehku pada Fardan. Aku menjelaskan banyak hal pada Fardan tentang kondisi fisik Bu Mestika. Kami sempat mengambil beberapa tanaman obat untuk dicampur dengan air mandi nantinya. Aku juga sempat menjelaskan banyak hal tentang tanaman obat yang ada di halaman depan rumahku untuk dimanfaatkan sebagai berbagai obat tradisional.

"Kamu lebih cocok jadi cucu dari nenekku ketimbang aku sendiri" ia menoleh dengan tatapan penuh tanya kearahku. Aku hanya terdiam sesaat dan tersenyum kearahnya. Kami sedang membuat bubur sumsum. Makanan yang sangat disukai Bu Mestika. Yang sekaligus sangat baik untuk kesehatan pencernaannya. 

_Bersambung

Labels: , , , , , , , , , ,

Thursday, January 24, 2013

Di Bawah Bulan





Mengapa warna langit tidak hijau? mengapa harus biru? mengapa malam itu gelap pada awalnya, dan benderang pada akhirnya?
Namun ajaibnya aku tetap menyukai hal tersebut tanpa harus tahu mengapa semua hal tercipta seperti itu.
***

Duniaku berkisar di sebuah desa nan jauh dari perkotaan, duniaku penuh dengan bintang dalam arti sebenarnya, malamku beredar dengan kerlip melimpah, terlihat jelas bagai perhiasan di kalung sang malam. Duniaku sepi tanpa hingar bingar kendaraan, tanpa kelap kelip lampu menara pemancar sinyal, yang ayahku bilang desa ini perlu  semua hal itu untuk dapat ‘terjangkau’ dari luar daerah tempat kami tinggal.

Aku suka tinggal di sini, saat sebagian besar dewasa muda seumuranku berusaha mencari mata pencaharian yang lebih baik dengan pergi keluar desa, aku lebih suka disini, melihat malam dengan mata telanjang, melihat pagi dengan mata kesilauan akan cahaya matahari, tanpa ada aling-aling gedung kecuali hamparan luas padang ilalang terbentang.

Aku percaya aku bukan sebatang kara, kakek dan nenekku telah bertahun meninggal, begitu pula ibuku, namun ayahku yang tinggal di kota kadang menjengukku ke sini. Di desa yang sangat beliau benci, desa yang manakala saat berkunjung kemari selalu ia keluhkan masalah sinyal dan jambannya. Berkali ia memintaku pindah, pindah ke tempat tinggalnya dikota, kota asing yang sama sekali tidak aku ingat walaupun aku dilahirkan disana. Kini penduduk desa pikir aku sendirian, aku sebatang kara, sejak ayahku tidak pernah kemari lagi, itupun 4 tahun lalu.
Aku sama sekali tidak mendapat kabar tentang ayahku sejak saat itu, aku tahu bahwa ayahku tinggal dikota, aku tahu alamatnya, ayahku pernah menyimpan alamat tempat tinggalnya di samping meja tidurku sebelum beliau pergi. Namun aku tidak mau, aku tidak mau mencarinya, bukannya aku takut tersesat jika kesana, aku hanya takut sebagian mimpi terburuk tentang ayahku terwujud saat aku kesana.

Bertahun rasioku berkecamuk dengan perasaanku, untuk pergi atau tidak pergi ke tempat ayahku, Namun ayahku tidak pernah memaksaku kesana, walaupun ia pernah memintaku untuk tinggal bersama keluarganya. Semakin memikirkannya aku semakin sedih, karena mengingat betapa sedikitnya hal yang aku ketahui tentang ayahku.

Hal tersebut berbanding 1:10000 jika dibandingkan dengan pengetahuanku tentang desa ini. Aku mencintai tempat ini, lebih dari apapun sekarang, entah desa ini membawaku ke mana, namun desa ini tidak mengingatkanku tentang masalalu, karena sejak kecil yang kuanggap sebagai masalalu pun tetap menjadi masa sekarang, aku tidak pernah berpindah tempat dari desa ini, hal aneh namun memikat yang bahkan membuatku heran karena mampu memerintahku dan melupakan segala dilema yang ada untuk pergi menemui ayahku di kota.

Tidak ada satu hal pun yang dapat menggangguku untuk segala hal yang dapat aku miliki tentang desa ini. Kini aku mengabdi pada desa ini, dipagi hari aku akan melihat banyak orang beramai-ramai pergi ke ladang, anak-anak beramai-ramai menuju ‘gubuk’ yang kami jadikan sarana, dan di sore hari aku akan melihat anak-anak berlarian menyelamatkan diri dari rintik hujan yang kian menderas dibawah pelepah daun pisang menuju rumah mereka masing-masing. Aku seorang guru.

Aku mencintai desa ini, dengan semua hal yang ada didalamnya. Rumput ilalang yang kian tinggi, ladang yang kian ranum buah-buahannya, sawah yang kian menguning, dan sungai yang kian indah percik airnya. Begitu juga dengan penduduknya, yang selalu tersenyum dan bertegur sapa saat hari cerah dan tidak hujan. Dan bintang.

Segalanya. Sampai hati dan jiwa ini hilang diri mungkin raga ini hilang kendali. Hanya karena bertemu dengan dia. Dia yang bahkan bukan berasal dari desa ini. Bukan orang dengan profesi serupa denganku. Mengalihkanku akan bintang nan indah setiap malam, atau lembut rumput ilalang yang kian kering di hangat senja.

Kepala desa bilang ia kemari untuk merawat Bu Mestika, Ibu Mestika sudah tua, usianya hamper sepertiga abad, sepengetahuanku Ibu Mestika tidak perlu di tunggui setiap harinya, ia masih sehat di usia senja.  Ia tetanggaku yang paling dekat, Ibu Mestika sangat akrab dengan keluargaku. Sampai Kakek kemudian nenekku meninggalpun Bu Mestika lah yang selalu menemaniku. Sehingga aku seperti sekarang, gadis yang masih lajang, dan belum tahu dengan siapa ia seharusnya. Sampai aku bertemu dengannya.

Aku sendiri tidak pernah tahu jika Ibu Mestika memiliki seorang anak, apalagi cucu, yang membuat pengetahuanku tentang keluarga Ibu Mestika selesai sampai disitu, bahwa Ibu Mestika tidak punya keluarga, mungkin empat bulan lalu aku dapat menemani Ibu Mestika yang sebatang kara. Aku dan seorang wanita tua yang sama sekali tidak merepotkan hidup bersama-sama, dua orang wanita terpaut usia yang sebatang kara namun hidup berdampingan. Dan kepahitan dunia tidak akan menjadi masalah apapun bagi kami. Membayangkannya saja membuatku tersenyum, pikirku aku memiliki seorang teman untuk menjalani hidupku yang indah ini.

Sampai ada dirinya, yang menemani Ibu Mestika sepanjang hari, orang pertama yang kulihat dapat membuat Ibu Mestika memancarkan sorot mata penuh kasih sayang sarat rindu di matanya.

“Namanya Fardan, nak. Dia putra dari anak angkat ibu, jaga cucu ibu satu-satunya ya nak. Dia masih sungkan tinggal disini, tolong dia ‘Nak” begitu sahut ibu Mestika suatu waktu saat ia bersamaku. Setelah tersebar berita dari obrolan penduduk desa, bahwa pemuda bernama Fardan ini adalah putra dari anak angkat bu Mestika, suami Bu Mestika yang sudah lama meninggal saat aku masih kecil, ternyata memiliki anak angkat yang tinggal dikota, Bu Mestika memang tidak pernah memiliki keturunan. Namun anak angkat Bu Mestika tidak ada yang tinggal di desa ini, semuanya tinggal di kota. Cerita tinggal lah cerita, sampai pada saatnya semuanya terbukti sekarang, putra dari anak angkat Bu Mestika yang tinggal dikota telah tiba di desa ini.

Kami belum pernah bertegur sapa, apalagi bersenda gurau, temanku Indri adalah yang paling dekat dengannya, kurasa. Sehari setelah aku pertama kali melihatnya tiba di desa ini, ia keluar dari mobil yang di kendarainya, seorang diri. Aku terdiam di teras rumahku sambil membawa payung saat melihatnya terburu masuk ke dalam rumah Bu Mestika, hujan saat itu. Bu Mestika langsung menyambut cucunya tersebut dan mengajaknya masuk. Malamnya saat hujan sudah reda, langit belum kunjung cerah. Sehingga bintang yang kunantikan belum juga tampak. Payung yang kusiapkan untuknya mungkin hanya seonggok payung biasa yang tergeletak disudut ruangan. Sampai keesokan harinya ia berkeliling desa bersama Indri temanku, aku bahkan tidak memiliki kesempatan untuk berkenalan dengannya.

****

Setiap hari yang kulalui seharusnya menjadi hari yang biasa, hari yang menyenangkan dengan aroma tanah bekas hujan dimalam hari. Atau matahari yang benderang terik seperti biasanya saat pagi hari. Namun sejak kedatangannya di desa ini, aku merasakan hal yang tidak biasa.

Fardan akan membantu Bu Mestika, di ladang saat pagi hari, membantu memasukkan dendeng yang di jemur kedalam rumah menjelang sore, dan terkadang aku melihatnya kembali dari tajuk di desa kami selepas isya.

Kami tidak pernah bertemu secara langsung, aku hanya melihatnya dari teras rumahku. Pernah suatu saat ia memergokiku sedang melihatnya. Sebenarnya aku ragu, ia melihatku, atau melihat bunga yang sedang kurawat di halaman rumahku, saat bertemu pandang.. aku hanya menunduk malu, dan aku tidak tahu kelanjutannya, karena setelah itu yang aku lakukan adalah langsung masuk kerumahku.

Setelah hampir dua minggu aku menjalani rutinitasku seperti biasa, aku merasa risih untuk mengganti hal yang sedang kulakukan jika bertemu dengannya. Hingga akhirnya sepulang mengajar anak-anak. Aku bertemu dengannya di persimpangan jalan antara rumahku dan padang ilalang tempatku bermain semasa aku kecil. Hujan. Fardan. Untuk sesaat aku hanya terdiam melihatnya kehujanan, namun karena hanya aku yang membawa payung dan hanya ada aku pula disekitarnya, mau tak mau aku menghampirinya.Tapi tanpa aku sadari, ternyata aku tidak membawa payung. Payung yang aku kira bersemayam didalam tasku ternyata tidak ada, aku menjadi kikuk karena aku sudah hampir setengah jalan menuju tempatnya berada. Dengan berbagai pertimbangan selama beberapa saat, akhirnya aku menghampirinya. Tempatnya berada adalah gubuk tua yang sudah lama ditinggalkan namun masih ada atap untuk berteduh.

Ia tersenyum saat aku menghampirinya. Dengan kikuk ia memegang tas berisi sayuran dan mengelap tangannya yang terkena rintik hujan berkali-kali.
“Kamu tinggal di sebelah rumah nenekku ‘kan?” katanya mengawali percakapan.
“Iya,” aku hanya dapat mengatakan kata itu, karena aku bingung untuk bertanya apa padanya.
“Fardan” serunya memperkenalkan diri, tanpa menawarkan tangannya untuk disalami. Karena kedua tangannya sibuk mencari cari sesuatu didalam tas yang tengah ia pegang.


_Bersambung

Labels: , , , , , , , , , ,

Friday, November 16, 2012

Atau Kenangan

Dirimu, akankah selalu begitu.
Tersenyum dan tulus disaat bersamaan,
menguap bersama angan, akan kemungkinan untuk memilikimu seutuhnya.
Melihatmu dengan bersedih hati, mungkin kau sungguh tidak terbersit apa yang kupikirkan.
Indah. dirimu terlalu indah untuk menghadapi keegoan diriku.
Manis, bahkan hanya untuk diingat.
Bagaimana bisa perasaan payah ini terperangkap dalam jiwa seperti ini.
Aku sangat tahu ketulusan hatimu, tak terbandingkan dengan jiwa yang lain.
Jika kau adalah sehelai serpih ilalang. Kaulah yang paling ringan diantara semuanya yang ada.
jiwa sepertimu tak seharusnya menjadi rapuh.

Jiwa ini sungguh . Malu .

untuk berpikir jika sempat melukai perasaanmu yang ringan,

untuk berpikir menggenggam untuk melepaskan.


menggenggam untuk melepaskan


You, will always be so.
Smiling and sincere at the same time,
evaporated with imagination,the possibility to have you completely.
Seeing you, sadly, maybe you’re really not occurred to you what I think.
Beautiful. you are too beautiful to face my selfishness
Sweet, even just to remember.
How can this lousy feeling trapped in a soul like this.
I really know the sincerity of your heart, is incomparable with any other soul.
If you are a weed flakes. You’re the lightest among all that exist.
A Soul like you should not be brittle.
This soul really. Shame.
to think that if I had hurt your light feeling,
think grasping to release.
grasping to release

5 November 2012
Grasping to release

Labels: , , , , , , , , ,

Sunday, November 11, 2012

Galau Adalah

Galau adalah

Galau adalah jika kamu pergi ke suatu tempat yang biasa kamu kunjungi setiap hari, tapi kamu melamun sendiri tanpa bicara apapun dengan siapapun sampai kamu tiba di tempat tujuan dengan keadaan hampir terlewat karena ketiduran.

Galau adalah jika kamu melakukan aktivitas yang seharusnya kamu lakukan dengan ceria tapi kamu bahkan tidak mengingat bagaimana ekspresi kamu saat melakukan aktivitas tersebut diesok harinya.

Galau adalah kamu merasakan perlu memiliki waktu sendirian tapi hal yang terjadi malah kamu mendapati orang lain bercerita tentang kehidupannya yang membahagiakan, dan ironisnya kamu terlalu berbahagia pula atas hidup orang lain dengan cara yang rasanya berlebihan

Galau adalah ketika kamu bersosialisasi dengan teman-temanmu tertawa lepas membicarakan hal yang lumrah tapi tidak memfokuskan diri terhadap apa yang dibicarakan sehingga kamu sering lupa untuk memilih diksi yang benar.

Galau adalah ketika kamu merasa sangat banyak aktivitas tapi tidak menyadari bahwa hal-hal yang kamu lakukan begitu melelahkan.

Galau adalah ketika kamu sendirian lagi tapi lebih memilih untuk memikirkan masalah orang lain yang tidak ada hubungannya dengan dirimu.

Galau adalah ketika kamu ingin membicarakan masalah tersebut terhadap orang lain tapi dirimu tidak mampu dan jiwamu tidak mengizinkan hal tersebut terjadi

Galau adalah ketika kamu secara tidak sadar menghela nafas dan bergumam sendiri karena masalahmu walaupun diantara kerumunan orang yang lalu lalang

Galau adalah ketika kamu tidak memikirkan seorang pun yang berhubungan dengan masalahmu namun kamu lebih memilih bergumam sendiri menyebutkan nama Sang Penciptamu untuk membantumu melewati sisa hari.

Galau adalah ketika kamu menunggu pintu untuk dibukakan namun terasa sangat lama padahal hanya beberapa detik.

Galau adalah ketika kamu berdiri menatap langit malam dan berdo'a lagi agar tidak melewati hal galau lagi esok hari

Galau adalah ketika kamu bermaksud untuk tweeting tapi tidak mampu dan tidak mengizinkan diri sendiri walaupun ada koneksi dan ada fasilitas.

Galau adalah ketika kamu menyimpan semuanya sendiri hingga tidur dan tidak sadarkan diri walaupun tidur lebih awal dan bangun kesiangan

Galau adalah pasrah karena hal yang kamu ingat dari mimpimu sama sekali tidak membantu masalahmu bahkan membuat semua masalahmu jadi lebih rentan.

Galau adalah ketika kamu tidur lagi dipagi harinya padahal sama sekali tidak butuh tidur.

Bukan galau jika kamu memutarkan musik patah hati atau musik yang liriknya galau
Bukan galau jika kamu menuliskan lirik galau pada setiap sosial media
Bukan galau jika kamu posting sesuatu dan membicarakan bahwa kamu galau
Bukan galau jika kamu memberi kode terhadap seorang pun di sosial media
Bukan galau kalau kamu sampai lupa terhadap siapa seharusnya kamu mengadu
Bukan galau kalau kamu membiritahukan kepada siapapun bahwa kamu sedang galau


Sedang berusaha bahwa hidup saya membahagiakan


Labels: , , , ,

Sunday, October 21, 2012

Musim yang lain

Aku pernah mengingat tentang musim yang lain, musim dimana aku akan terus mengejarmu.
Aku pernah mengingat tentang musim yang lain, musim dimana aku terperi tak henti
Aku pernah mengingat tentang musim yang lain, musim dimana aku takut kehilangan.
Aku pernah mengingat tentang musim yang lain, musim dimana aku merasa berharga dan dihargai.
Aku pernah mengingat tentang musim yang lain, musim dimana aku merasakan penantian yang teramat panjang.

I was remembered of another season, the season where I would always after you.
I was remembered of another season, the season where I rusted in everlasting pain
I was remembered of another season, the season where I was terrified of losing
I was remembered of another season, the season where I feel precious and recognized
I was remembered of another season, the season where I feel constantly long last waiting

  

seen on Caley Rye

Labels: , , , ,

Thursday, September 13, 2012

You

I don't know what has happening to him,
but he's smiling all day long
I hope that smile keep him to the end of the day when he sleep,
and the next day when he awake, everyday

Tumblr Photography, Photography Graphics

Labels: , , ,

Wednesday, September 12, 2012

16

Dear you in the other region of the earth,
I respect you as the wise sweet fellow,
Turning me into something. See More

Labels: , , , , ,

Tuesday, September 11, 2012

One little wings

Hanya saja kamu indah tanpa cela

Labels: , , ,

Friday, September 7, 2012

Project #1 Preview

So there's my short story is,
Akhirnya selesai juga membuat sebuah cerpen. ~~

Buatnya kemarin, dan selesai kemarin juga. Inspirasi.. untuk saat ini entah dari mana jalan ceritanya bisa seperti itu, hanya saja sedari dulu tertarik untuk membuat sebuah cerita yang 'so sweet', 'singkat', 'oh ternyata_feels','sedikit mengelabui', dan misterius. Kind of, having so much fun in that story.

Pernah dulu waktu masih labil saat MTs bikin sebuah cerpen yang alhasil saya ga ngerti maksudnya kemana. Kind of love story too, tapi saya rasa isinya terlalu bahagia dan blak-blakan. Namun saat ini, setelah saya lebih lama hidup (#_# ), lebih banyak menyaksikan cerita di sekitar, kehidupan, bencana, keprihatinan dan lain-lain, sudut pandang saya dalam menulis jadi sangat berbeda dari sebelumnya.

So why should be Pantheon and Fontana di piazza della rotonda?
  • because, these place is AMAZING   
  • saya termasuk orang yang tertarik dengan hal-hal yang berhubungan dengan sejarah, apapun.
*My favourite subject in school while I was an elementary kid is IPS SEJARAH.*
dan dengan menyukai hal tersebut, berusaha tidak tertarik dengan situs-situs bersejarah adalah mustahil.
  •  Jelas
Mengutip dari Afifah Afra, katanya untuk belajar menulis kita harus menentukan setting tempat yang jelas agar plot yang diinginkan berjalan tepat sesuai harapan penulis. Situs Pantheon jelas adanya, sebuah kuil yang dimandori oleh Hadrian 128 BC- SM. Dan terlebih lagi yang lebih menarik adalah, tepat di depan Pantheon terdapat Fontana di Piazza della Rotonda.
  • kind of Romantic, I think
Situs Pantheon dipersembahkan oleh sang pembuat untuk semua dewa-dewi kepercayaannya saat itu, sedangkan Fontana di Piazza della Rotonda dibuat oleh  Leonardo Sormani untuk merealisasikan titah Pope Gregory XIII Giacomo Della Porta.
semata mungkin tidak ada hubungannya, tapi kalau rasa melankolis saya ikut terbawa, fountain ini seperti diciptakan untuk menemani sang Pantheon. Diluar dari kepentingan apa yang dimaksud oleh para pembuatnya.
  • Well Enough research
Saat saya masih menjadi siswi di SMKN4 Bandung, Tugas Akhir mata pelajaran Java saya adalah Aplikasi Pembelajaran Sejarah di 5 benua. Dengan research yang sudah saya lakukan dimasa-masa pembuatan TA tersebut, saya berpikir untuk memanfaatkan satu diantaranya, yaitu sejarah Pantheon.
  • Menarik
Hal yang paling menarik dari kompleks situs ini adalah mereka ada di dua buah situs bersejarah yang sangat terkenal. Kalau biasanya cerita-cerita yang ada disetting agar si karaker dapat mengunjungi tempat wisata tersebut, kali ini saya mencoba untuk menempatkan karakter-karakter dengan aktivitas yang mereka habiskan setiap harinya di situs-situs ini.

 Any soundtrack ?
No, I was shut my winamp off to prevent story line about another song that played


Labels: , , ,

Thursday, September 6, 2012

Fontana di piazza della Rotonda

Di sinilah ia, memandang iba dengan tak kasat mata ke atas langit biru tanpa satupun awan yang berarak. Menyipitkan mata antara ingin dan tak ingin, merasakan angin berhembus pelan tanpa memedulikan lalu lalang keramaian disekitarnya.  Di ujung Piazza della Rotonda, tepat di depan matanya Pantheon, di ujung matanya saat ia membuka mata, Pantheon, di setiap matanya berputar untuk mencari hal lain untuk dipandang, Pantheon. Disinilah tempat impian semasa kecilnya bergantung, tempat masa remajanya berakhir dengan melewati ujung jalan ini hampir 6 hari dalam seminggu, tempat awal usia kepala duanya dimulai. Luce.

“Luce” Ia menoleh ke arah pemilik suara yang memanggil nama itu.


“Kau sudah selesai? Ibu sudah menunggumu sejak empat puluh menit lalu. Ayo kuantar kau segera kesana ” Sahutnya sambil terburu-buru membantunya tanpa menatap tatapan kosong sang gadis berkursi roda.


Luce. Katanya parau, ia menatap sepasang orang yang sepertinya kakak beradik itu menghilang diujung jalan diantara keramaian hilir mudik pengunjung kompleks wisata Pantheon. Menghela nafas bukan hal yang selalu diinginkannya, bukan juga hal yang menjadi kebiasan naluriahnya. Hanya saja ia seperti mengenal gadis itu, selamanya. Ia mengetahui gadis bernama Luce itu sedari remaja. Gadis itu selalu berada di sekitar Pantheon, menghadap ke arah air mancur yang berada di seberang Pantheon. Melihat gadis itu terdiam tenang di dekat tiang penyangga paling kanan Pantheon saat ia hendak pulang sekolah, melihat gadis itu nekat turun dari kursi rodanya namun tidak berhasil disuatu akhir pekan yang penuh turis asing, menyaksikan gadis itu akhirnya berhasil duduk di pelataran Pantheon setelah tiga hari kemudian dengan cara kedua tangan sekaligus berpegangan erat ke tiang penyangga paling ujung. Atau bahkan melihat gadis tersebut menolong turis asia yang meminta bantuannya untuk memotret mereka dengan latar belakang air mancur Fontana di piazza della Rotonda.


Ya, yang selama ini dia tahu, gadis yang selalu di panggil Luce itu selalu menatap dengan berbagai ekspresi pada Fontana di piazza della Rotonda. Seperti seumur hidupnya, ia bagaikan menyaksikan Luce dengan berbagai aktivitas yang ia miliki dan dihabiskan di pelataran Pantheon selama berjam-jam lamanya, termenung menatap air mancur Fontana di piazza della Rotonda. Bertahun-tahun yang ia habiskan disepanjang jalanan ini, berangkat sekolah, membantu neneknya, mengantar kerabat dekat mengunjungi Pantheon, atau membeli makanan di seberang jalan. Tak pernah sekalipun Ia melihat Luce melewatkan harinya tanpa dihabiskan disana. Luce selalu ada disana, berdiam diri seperti orang yang jiwanya melayang entah kemana, atau menatap penuh semangat ke arah puncak air mancur itu.


Baru setelah bertahun-tahun ia lewati masa demi masa dari umur yang ia miliki, Ia baru menyadari betapa lembutnya Luce yang selalu setia menatap Fontana di piazza della Rotonda itu. Tatapan lembut matanya, gerak pelan tubuhnya, atau sayu senyum heningnya. Luce. Hanya satu kata yang ia tahu, Luce yang ini begitu setia, begitu nekat untuk berada disana, di seberang Fontana di piazza della Rotonda dan menatap air mancur itu entah karena sakit jiwa atau kelainan atau mungkin gadis itu memang tulus adanya.


Sekarang diawal usia dua puluhannya ia bermaksud menetap disini, kota dimana ia dibesarkan dari semasa kecil, kota tempat keluarganya tinggal, kota tempat kakek dan neneknya membesarkannya, kota tempat kakek dan neneknya meninggalkannya, kota tempat kakek dan neneknya dikuburkan di tempat peristirahatan terakhir. Kota seribu kenangan dengan kebesaran Pantheon, Coliseum, dan bahkan Fontana di piazza della Rotonda. Ia lalui hari-harinya yang masih dapat ia gapai, dengan melukis portrait para turis dengan sentuhan seni lukis yang ia miliki. Kadang saat jasa lukisnya sepi peminat, ia akan terbiasa dengan melukis kebesaran Pantheon, Kuil yang dipersembahkan untuk seluruh dewa dewi. Melukis setiap pilarnya dengan seksama, setiap detail pada kubah silindernya dari sisi dimana ia berada, oh Hadrian, andai kau tahu berapa banyak orang yang memuja karyamu saat ini. Di sini di sudut jalan dekat Fontana di piazza della Rotonda, seberang Pantheon, ia berlatih untuk melancarkan satu-satunya kemampuannya yang dapat membuatnya layak masuk Università degli Studi di Roma Tor Vergata.



***

Rambutnya hitam kecoklatan, semula selalu diikat, namun sekarang selalu diurai, ia berjaket sangat tebal di musim dingin. Kadang membawa beberapa batang coklat, dan menghabiskannya sendirian. Jika ia selesai dengan makanan dan minumannya, ia tersenyum ke arah air mancur itu. Seperti satu-satunya orang yang bahagia karena di dunia ini tuhan masih mengizinkan air mancur itu ada, seakan abadi, setidaknya untuk dirinya. Jika hujan salju tiba, ia tidak tahu apa yang terjadi pada Luce, karena ia sendiripun selalu berdiam diri dirumah saat cuaca beralih tidak mendukung.


Akhir-akhir ini Luce lebih mudah ditemui di sekitar pelataran Pantheon, namun Luce disana, jauh dari keramaian turis yang berlalu lalang seenaknya, tanpa ada rasa iba terhadap gadis berkursi roda di sudut pelataran. Luce lebih sering tersenyum sekarang, mungkin mengiba terhadap langit biru, atau lagi-lagi terhadap Fontana di piazza della Rotonda. Ya ampun, aku pasti lupa betapa naksirnya Luce pada air mancur ini, gumamnya suatu hari saat mengerjakan sebuah lukisan. Entah apa yang ada dipikiran Luce yang selalu menatap air mancur ini tanpa henti, dimana ia selalu merenung. Sepertinya jika ia menjadi Luce, ia akan memilih menatap Pantheon sebagai objek panorama yang disukainya, kuil dengan ribuan marmer berwarna-warni yang menghiasi lantainya dan kubah menjulang tinggi yang menempel kokoh dilangit-langit dalamnya. Ia tak habis pikir mengapa diantara ribuan air mancur diseluruh Italia, Luce sangat mengagumi Fontana di piazza della Rotonda.


Sedangkan  ia sangat mengagumi Pantheon.


***


Ia melukis Pantheon lagi, Pantheon yang sangat dikaguminya. Ia melukis dari sudut pandang yang berbeda setiap kalinya, sehingga setiap karya yang ia buat dari Pantheon, tidak ada yang pernah benar-benar serupa atau terlihat sama. Rambutnya hitam kecoklatan, jaketnya berwarna merah kali ini, senyumnya tulus, tatapannya hangat, terduduk diam di pelataran sudut Pantheon diatas… Kursi Roda?


Ia terkesiap dengan apa yang baru ia kerjakan, sudah hampir enam kali ia melukis Pantheon dengan Luce di dalamnya. Dan kali ini dengan detail yang lebih spesifik, dengan hati dan perasaan yang tetap tidak menyadari, namun panca indera yang lebih dulu sadar akan apa yang diinginkannya dan menuangkannya dalam lukisan tanpa meminta izin terlebih dahulu terhadap hati dan perasaan.


Luce, apakah kau bahkan tahu namaku? Pikirnya suatu waktu.



***


    Oh Pantheon,

    Oh Fontana di piazza della Rotonda,


    Kalian diciptakan berhadap-hadapan


    Satu sama lain.


    Dalam suatu waktu tanpa pengecualian,


    Akan kah semuanya mungkin terjadi,


    Sampai tak ada jarak di antara kalian?

Rambutnya hitam kecoklatan, jaketnya berwarna merah kali ini, senyumnya tulus, tatapannya hangat, namun ia tidak terduduk diam di pelataran sudut Pantheon dengan kursi roda. Karena aku mendorong kursi rodanya, ke sebuah tempat yang baru. Dengan tawa kecil yang dilontarkan sang pemilik kursi roda. Hei Nona, ini awal pertama aku melihatmu tersenyum saat meninggalkan pelataran Pantheon, kita semakin dekat ke seberang, agar kau bisa menggapai arak airnya seperti dirimu yang penuh cahaya, menuju Fontana di piazza della Rotonda.





Story and Illustration Copyright Hana Zainab Mukarromah

Labels: , , , , , , , , , , ,

Sunday, September 2, 2012

03 July 2012, 9:32 pm

To me love is insidious thing , it’s harmful every piece of logic perception. And destruct every feel of broken heart_ZM

Labels: , , ,

Saturday, September 1, 2012

14

Or maybe past event has made you becoming more wise looking guy, through every movement you take and every act you did, and every hope you tangle in every pray you said See More

Labels: , , , ,

New Inception Project ~ Finding My own Sense in Literature (more)

And oh Yes, is it September already ? what would we gonna do with this blog ?
it's like an abandoned site, yeahs I've been spending so much time in my WordPress, tumblr, and deviantart, but not here.
Well, this could be the (again) inception. Delighted for the new rearranged templates I've been working for. Just love this teal like Green, OMG I fond Green so much 

My New Project here is?

Finding My own sense in literature (more),

Though I've been publishing poems and poetry so many times and publishing it in my WordPress, why ain't I try it here?
ind of,
Dari sejak Mts belajar bikin puisi, karena sebetulnya ada pelajaran balaghah. dan baru menyadari betapa luhurnya anak kelas 1 smp belajar mengetahui komponen-komponen dalam syair arab :| . Just, Oh God 

Probably, I like Literature so much, sastra things, puisi, pantun, novel sastra, syair, apapun mereka disebutnya maybe in reading side, not in writing side.
tapi, lambat laun sering juga ternyata membuat hal-hal semacam itu (unnoticedly)

so I kind of delighted to write some literature things,

My dream was about to own my own literature novel, and I know someday i'll make it come true.

Sedikit jadi mengenang saat-saat masih berada di Madrasah Tsanawiyyah, dan tentu saja karena project kali ini 'Finding My Own Sense in Literature (more)'

Akan saya coba dengan membuat sebuah cerpen.
September Birthstone, "Sapphire"
1432H Syawal 13





Labels: , , , , , , , ,

Friday, July 13, 2012

I've got Your Number


Hey there , just want to share my review,

Now I'm reading Sophie Kinsella - I've got Your number,

It's amazing for the first time you've read it, it was always Sophie Kinsella style to set a plot where there's a trouble some heroin named Poppy as the main character and trying to make things better even solved it.

If you were Sophie Kinsella chicklit's reader for the first time she launched Shopaholic Series ..
You will not find similarity between Becky and Poppy indeed. But as Sophie Kinsella tradition, the character she brought always have a faith to help each other and clumsy whatever the main character job is. So this kind girl named Poppy begin with some trouble that she has, she lost her Engaged Ring! that's the first trouble, (yet in Shopaholic Series begin with Becky got tons of bills.) and then Sophie Kinsella's Guy character (my next attention) is always amazing and literally gorgeous! in I've Got Your Number you'll meet Magnus Tavish and Sam Roxton. And Yes, there will be another charming prince look like you will love here. It's all about Ring, Engangement, And Phone.

So If you were a Sophie Kinsella fans and always used to know her amazing writing, check it out :)

Labels: , , , , , , ,