Friday, January 25, 2013

Di Bawah Bulan - Bagian kedua


“Fardan” serunya memperkenalkan diri, tanpa menawarkan tangannya untuk disalami. Karena kedua tangannya sibuk mencari cari sesuatu didalam tas yang tengah ia pegang.
“Aruna”
“Apa?”
“Namaku Aruna” seruku lebih keras.
“Namamu.. ”
“Baru pertama kali dengar? Atau masih asing?” tanyaku tersenyum, hal biasa yang aku hadapi sejak kecil. Awalnya mereka asing dengan namaku. Namun karena aku tidak pernah pergi dari desa ini, pasti mereka tidak asing lagi dengan namaku. Kecuali pemuda di depan ku yang satu ini.
”Bukan, aku biasa mendengar tentang dirimu dari nenekku, tapi terasa berbeda saat kamu yang menyebutnya” serunya. Aku tidak mengerti apa maksudnya, aku hanya tersenyum sewajarnya. Dan kembali terdiam menghadap hujan untuk berhenti. Sempat hening, mungkin sebenarnya aku yang giliran berbicara, karena aku yang terakhir diberi pernyataan. Tapi aku terlalu kalut untuk mengatakan sesuatu. Ini jauh lebih sulit jika dibandingkan dengan saat mengajar atau bersosialisasi dengan warga desa. Sangat sulit.
“Aruna” katanya lagi. Aku hanya menoleh padanya, sulit untuk terfokus memandang kearahnya, apalagi saat terasa ada kupu-kupu di dalam perutmu yang menggelitik untuk keluar setiap kali mendengarnya menyebut namamu.”Hujan sudah agak reda, ayo kita kembali” sahutnya.
***

Terdiam melihat ranting yang patah terinjak, tergeletak ditengah padang rumput lembap. Sudah dua hari sejak terakhir kali aku bertemu Fardan di ujung jalan yang diguyur hujan. Saat itu aku sampai dirumah dengan penuh rasa heran, heran karena saat ia mengajakku beranjak pergi dari sana, ternyata ia membawa payung. Payungku. Entah dari mana ia mendapatkannya. Aku hanya mengerjap melihatnya membentangkan payung itu, berbagi payung denganku. Pada keheningan hujan yang konstan tanpa percakapan manusia. Sampai akhirnya di depan rumahku, ia menyerahkan payung itu seraya berkata “Payung ini sepertinya terjatuh dijalan saat kau pergi, aku menunggumu di jalan tadi karena aku pikir kalau kau pulang pasti lewat sana”. Jelasnya, setelah berterimakasih dan ia pun berpamitan, aku menyentuh perutku yang menahan kupu-kupu yang ingin keluar. Jadi, cucu Ibu Mestika yang tinggal di kota ini, membantu neneknya di desa membelikan sayuran ke pasar dengan pulang pergi berjalan kaki, menemukan sebuah payung dengan tag-name ‘Aruna’ dan menungguku pulang di seberang jalan tanpa menggunakan payung itu untuknya sendiri. Ajaib, bukan ?
***

Jika di dunia ini manusia dapat menghitung seluruh bintang di alam semesta, atau melakukan teleportasi dengan sekejap mata, tentu manusia tidak akan berusaha keras untuk mendapatkan sebuah kesempatan. Kalau saja di dunia ini manusia diberi kemauan sedapat-dapatnya. Tentu tidak akan ada sebuah koinsidensi bernama 'kebetulan'. Daya pikir manusia berawal dari melihat suatu hal yang kecil terlebih dahulu. Seperti disaat sebuah 'kebetulan' datang, manusia akan berpikir bahwa disaat kau menemukan seorang yang berarti untukmu, itulah yang dinamakan 'kebetulan'. Tanpa peduli mungkin yang sang pencipta maksud adalah 'takdir'

Jika kapasitas manusia hanyalah berharap, maka segala yang dapat terjadi adalah kuasa tuhan.

Aku menyerah akan apa yang tuhan karuniakan padaku, sehingga tanpa kusadari rasa yang kumiliki terasa sakit tak berarah.

Aku menyukai dia, tanpa ada yang menyadari, satu-satunya yang menyadari perasaanku padanya hanyalah rasa rendah diriku. Rasa rendah diriku terlalu menguasai diriku sehingga mengungkapkan hal yang sesungguhnya kurasakan adalah mustahil.

Fardan datang ke desa ini tanpa ada yang tahu alasannya kenapa. Berbagai berita yang simpang siur wara-wiri di desa hanyalah bahwa pemuda ini menghabiskan waktu liburannya dengan mengunjungi neneknya.

Mungkin beberapa orang tidak peduli dengan alasan tersebut. Karena berapa lamapun ia tinggal disini, sama sekali tidak menjadi masalah untuk warga desa. Mereka menyukai cucu Ibu Mestika itu. Fardan mudah bergaul dan dapat bercakap-cakap dengan siapa saja.  Tanpa sadar ia telah menghabiskan satu bulan 'liburan' nya di desa ini.

Aktivitasnya di desa yang belum berkembang seperti kebanyakan warga di desa membuatnya memiliki banyak waktu luang. Di sore hari jika tidak hujan ia akan keluar melihat anak-anak bermain di lapangan. Kadang aku melihatnya bermain bersama anak-anak. Suatu pemandangan asing di desa kami, mengingat hanya segelintir kawula muda saja yang ada di desa ini. Seperti yang pernah kubilang, bahwa orang orang seusia remaja di desaku sudah pergi ke kota untuk mencari mata pencaharian yang menurut mereka lebih baik dari pada bertani.

Sehingga memiliki orang dewasa yang mengajak anak-anak bermain bersama adalah sebuah kegembiraan bagi mereka.

Tanpa sadar aku merasa kesepian.

Untuk pertama kalinya aku dapat merasakan rasa bahagia saat dapat menemui orang yang kau sukai setiap harinya. Namun kesepian. Karena aku selalu menghindar darinya setiap saat, melihat tawanya dari kejauhan dan merasa lega saat menyadari aku tidak ketahuan sedang memperhatikannya. Aku melakukannya semata-mata untuk kebaikan semua orang.
Aku menyukai Fardan.

Begitu juga setiap gadis yang masih ada di desa ini. Setiap gadis berlomba untuk mendapatkan perhatiannya, setiap hari. Aku bukannya mengaku lebih rendah dari mereka. Kurasa kami berada di lingkungan yang sama, tumbuh dewasa bersama-sama yang membedakan hanyalah silsilah keluargaku yang tidak murni berasal dari desa ini. Dan keadaanku yang kini. Sebatang kara.

Gadis-gadis di desa tentu mendapat segala dukungan dari ayah dan ibu mereka untuk mendapatkan simpati Fardan. Segala hal. Aku bahkan pernah memergoki Ibunya Indri membeli banyak sekali perangkat kosmetik, aku tahu itu bukan untuknya. Tapi untuk Indri. Indri sahabat sejak kecilku yang sama sekali tidak pernah senang menggunakan pakaian layaknya anak perempuan. Aku tahu persis hal itu. Namun siapa sangka, jika cinta mengetuk segalanya akan berubah, dan aku tahu bahwa setiap sahabat wanitaku di desa ini telah jatuh cinta padanya. Fardan.

"Aruna" aku mendongak melihat orang yang sedang berdiri di depanku. Untuk sesaat wajahnya tidak jelas terlihat karena bias matahari yang pekat ditengah siang. Fardan. Aku segera menyimpan parang yang sedang kupakai untuk mencabut rumput di kebunku dan langsung berdiri.
"Ya ?" sahutku. Aduh, bisakah lebih dari sekedar ya?
"Nenekku demam dan tidak mau makan, bisa kau bujuk dia?"
Aku mengerutkan dahi dan langsung menuju ke rumahnya tanpa berkata apapun lagi. Jadi itu alasannya mengapa Bu Mestika tidak keluar rumah sejak kemarin. Aku marah padanya. Kalau memang Bu Mestika sakit kenapa Fardan tidak bilang dari kemarin? Pikirku cucunya ini dapat menangani keluhan sakit neneknya ini.

Aku menyentuh dahi Bu Mestika, panas. Ia menggigil dalam selimut tanpa sadar bahkan untuk melihatku datang mengunjunginya. Sebelum Fardan datang ke desa ini aku biasa menghabiskan waktu bersama Bu Mestika. Ia sudah seperti nenekku sendiri. "Bu Mestika hanya butuh istirahat. Makan makanan yang mudah dicerna, dan mandi air hangat setiap kali ingin mandi" celotehku pada Fardan. Aku menjelaskan banyak hal pada Fardan tentang kondisi fisik Bu Mestika. Kami sempat mengambil beberapa tanaman obat untuk dicampur dengan air mandi nantinya. Aku juga sempat menjelaskan banyak hal tentang tanaman obat yang ada di halaman depan rumahku untuk dimanfaatkan sebagai berbagai obat tradisional.

"Kamu lebih cocok jadi cucu dari nenekku ketimbang aku sendiri" ia menoleh dengan tatapan penuh tanya kearahku. Aku hanya terdiam sesaat dan tersenyum kearahnya. Kami sedang membuat bubur sumsum. Makanan yang sangat disukai Bu Mestika. Yang sekaligus sangat baik untuk kesehatan pencernaannya. 

_Bersambung

Hana Zainab Mukarromah Web Developer

I am a programming teacher who lived in Bandung, pluviophile nephelolater, oneironaut, writer, blogger, muslimah for a living