belajar : Melakuka revisi proposal tesis
hari ini aku akan posting kegiatan belajarku, pembelajaran ini kulakukan untuk memahami apa yang seharusnya ku tulis pada proposal tesis setelah pada 19 mei 2025 lalu kami lakukan seminar proposal.
aku mendengarkan rekaman Prof Herman yang ku rekam sendiri disini,
https://www.youtube.com/watch?v=gp6DULOTmoU
kemudian aku rangkum
selanjutnya aku cari pebelajaran yang relevan, aku menemukan video keren ini buatan prof Ketut Agustini
https://www.youtube.com/watch?v=Z2zdnWJI3R0
tidak selesai disitu, aku mulai brainstorming dengan kawan favoritku, gemini.
dan ini katanya, aku sangat suka analisanya
Panduan Komprehensif Penyusunan Desain Penelitian Kuasi-Eksperimen untuk Bab 3 Proposal Tesis Anda
I. Pendahuluan: Memahami Desain Penelitian Anda
Menanggapi Umpan Balik Profesor: Pentingnya Visualisasi Desain
Umpan balik dari profesor mengenai kebutuhan visualisasi desain penelitian dalam Bab 3 adalah sebuah arahan yang sangat penting. Permintaan untuk "Digambar ya Bu ya kan belum ada gambarnya Penelitian eksperimen atau kuasi eksperimen itu kan ada nanti digambarkan satu kelompok kontrol kelompok eksperimen kelompok kontrol coba nanti cari sumber di buku metode penelitian Kuasi eksperimen itu mau jenis yang pakai pretest post test atau post test only atau apa itu nanti silakan tapi ada gambarnya gambar kayak kotak-kotak gitu ya" [User Query] secara eksplisit menunjukkan bahwa diagram bukan sekadar formalitas. Diagram tersebut merupakan alat fundamental untuk mengklarifikasi logika kausal dari desain penelitian. Representasi visual ini secara intuitif membedakan antara kelompok eksperimen dan kontrol, menunjukkan urutan peristiwa (pretest, perlakuan, posttest), dan secara jelas mengkomunikasikan bagaimana intervensi akan diimplementasikan dan diukur secara sistematis.
Penyusunan diagram yang cermat memaksa peneliti untuk berpikir secara mendalam tentang urutan waktu dan perbedaan perlakuan antar kelompok, yang merupakan aspek krusial dalam membangun inferensi kausalitas. Dalam konteks penelitian kuasi-eksperimen, di mana randomisasi individu tidak selalu mungkin, kejelasan visual ini menjadi lebih vital untuk menunjukkan ketelitian metodologis dan kemampuan peneliti dalam menyingkirkan penjelasan alternatif untuk hasil yang diamati. Diagram yang dirancang dengan baik akan menjadi pusat penjelasan Anda, dengan setiap komponen dijelaskan secara rinci, sehingga profesor dan pembaca dapat dengan cepat memahami struktur dan validitas internal studi Anda.
Gambaran Umum Penelitian Kuasi-Eksperimen dalam Konteks Tesis Anda
Penelitian ini mengadopsi "pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen semu (quasi-experiment)".
Pemilihan desain kuasi-eksperimen mencerminkan adanya pertukaran antara validitas internal dan kepraktisan atau validitas eksternal. Sementara eksperimen sejati memaksimalkan validitas internal melalui randomisasi, mereka seringkali tidak praktis atau terlalu artifisial dalam pengaturan pendidikan dunia nyata. Desain kuasi-eksperimen, dengan bekerja menggunakan "kelompok utuh" atau "kelas apa adanya" [User Query], memungkinkan peningkatan validitas eksternal (kemampuan generalisasi temuan ke kelas nyata) dengan mengorbankan sebagian validitas internal. Dalam konteks ini, penggunaan pretest menjadi mekanisme utama untuk mengurangi ancaman terhadap validitas internal, memungkinkan peneliti untuk mengontrol perbedaan awal antar kelompok secara statistik. Desain ini merupakan keseimbangan yang tepat antara ketelitian metodologis dan penerapan di dunia nyata, memungkinkan studi dampak intervensi dalam pengaturan alami yang meningkatkan validitas ekologis temuan.
II. Desain Penelitian Kuasi-Eksperimen: Konsep dan Penerapan
Definisi dan Karakteristik Desain Kuasi-Eksperimen
Desain kuasi-eksperimen, sebagaimana dijelaskan dalam literatur, "resembles experimental research, but is not true experimental research".
Meskipun kuasi-eksperimen tidak memiliki kontrol penuh seperti eksperimen sejati, desain ini tetap dapat memberikan hasil yang sangat ketat dan berguna, terutama dalam konteks di mana randomisasi penuh tidak mungkin dilakukan. Desain ini memungkinkan peneliti untuk menguji hubungan sebab-akibat dalam kondisi yang lebih alami dan relevan dengan dunia nyata, yang seringkali meningkatkan validitas eksternal penelitian.
Mengapa Desain Ini Sesuai untuk Penelitian Anda
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak "penerapan Kecerdasan Sosial Emosional dan model pembelajaran Project-Based Learning (PjBL)"
Nonequivalent Groups Design karena kelompok-kelompok tersebut tidak dibentuk melalui randomisasi individu, sehingga ada potensi perbedaan awal antar kelompok.
Pemilihan desain kuasi-eksperimen, khususnya Nonequivalent Comparison Group Design with Pretest-Posttest, bukanlah sebuah kompromi metodologis, melainkan penyelarasan strategis dengan kendala praktis dan pertimbangan etis dalam melakukan penelitian di institusi pendidikan. Pendekatan ini mengakui bahwa meskipun kontrol eksperimental yang ideal sulit dicapai, bukti yang kuat masih dapat dihasilkan dengan secara cermat mengelola ancaman yang diketahui terhadap validitas internal. Ini dilakukan, misalnya, melalui penggunaan pretest dan kontrol statistik, yang akan dibahas lebih lanjut. Desain ini menunjukkan pemahaman peneliti tentang bagaimana menyeimbangkan idealisme metodologis dengan realitas lapangan, memungkinkan studi dampak intervensi dalam pengaturan alami sambil tetap berupaya menjaga ketelitian ilmiah.
Penjelasan Mengenai "Kelas Apa Adanya" dan "Random Assignment pada Beberapa Kelas"
Pernyataan profesor "Ya sudah dipakai saja kelas apa adanya" [User Query] secara langsung mengacu pada penggunaan kelas yang sudah terbentuk secara alami (intact groups) sebagai unit penelitian. Ini adalah karakteristik kunci dari desain kelompok non-ekuivalen (Nonequivalent Groups Design) dalam kuasi-eksperimen, di mana "students are not randomly assigned to classes by the researcher".
Meskipun siswa tidak diacak ke dalam kelompok secara individual, proposal penelitian menyatakan "Sampel diambil menggunakan teknik simple random sampling untuk memastikan kesetaraan peluang dalam pemilihan subjek".
memilih dua kelas untuk ditetapkan sebagai kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Proses ini, meskipun bukan randomisasi individu, dikenal sebagai cluster random assignment atau random selection of intact groups.
Penggunaan "simple random sampling" untuk kelas (kelompok utuh) adalah pilihan metodologis kritis yang, meskipun tidak mencapai randomisasi individu, secara signifikan memperkuat desain kuasi-eksperimen. Ini membantu meminimalkan bias sistematis dalam penugasan kelompok, membuat perbandingan antara kelompok eksperimen dan kontrol lebih kredibel. Pemilihan acak kelas sebagai unit perlakuan membantu mengontrol beberapa variabel pengganggu yang tidak teramati pada tingkat kelas, sehingga meningkatkan ketelitian studi kuasi-eksperimen. Ini adalah cara pragmatis untuk meningkatkan validitas internal studi dalam batasan lingkungan pendidikan.
III. Visualisasi Desain Penelitian: Diagram dan Penjelasan
Diagram Desain Kelompok Kontrol Non-Ekuivalen dengan Pretest-Posttest
Desain yang paling sesuai dan direkomendasikan untuk penelitian ini adalah Nonequivalent Comparison Group Design with Pretest-Posttest. Desain ini melibatkan pengukuran variabel dependen (pretest) sebelum perlakuan, diikuti dengan perlakuan pada kelompok eksperimen, dan pengukuran kembali variabel dependen (posttest) setelah perlakuan untuk kedua kelompok. Diagram ini akan memenuhi permintaan profesor untuk "gambar kayak kotak-kotak gitu ya" [User Query], menyajikan struktur penelitian secara visual dan intuitif.
Diagram ini sangat diperlukan untuk menyampaikan desain penelitian secara ringkas dan efektif, memudahkan profesor untuk memahami struktur studi secara sekilas dan memverifikasi keselarasan dengan pendekatan kuasi-eksperimen. Representasi visual ini menyederhanakan langkah-langkah metodologis yang kompleks, dengan jelas membedakan antara kelompok eksperimen dan kontrol, serta menunjukkan urutan peristiwa (pretest, perlakuan, posttest) yang sangat penting untuk membangun urutan waktu. Tidak adanya notasi 'R' (randomisasi individu) dan penggunaan garis putus-putus secara visual mengkomunikasikan sifat kuasi-eksperimen, secara langsung menangani aspek "kelas apa adanya" sambil tetap menunjukkan perbandingan yang terstruktur.
Berikut adalah struktur diagram yang diusulkan:
Catatan: Garis putus-putus antara Kelompok Eksperimen dan Kontrol menunjukkan bahwa subjek (siswa) tidak diacak secara individual ke dalam kelompok, melainkan kelas yang sudah ada yang dipilih secara acak untuk menjadi kelompok eksperimen atau kontrol.
Penjelasan Komponen Diagram
Kelompok Eksperimen (KSE + PjBL)
Kelompok ini akan menerima perlakuan inovatif yang mengintegrasikan "Kecerdasan Sosial Emosional dan model pembelajaran Project-Based Learning (PjBL)".
Perlakuan yang diberikan bukanlah intervensi tunggal yang monolitik, melainkan pendekatan pedagogis yang kompleks. Keberhasilan intervensi bergantung pada kesetiaan implementasi dari kedua komponen KSE dan PjBL, dan yang terpenting, integrasi keduanya. Kompleksitas ini perlu diakui dan dijelaskan secara rinci dalam metodologi. Laporan ini akan menekankan sifat terintegrasi dari perlakuan dan pentingnya implementasi yang konsisten untuk memastikan bahwa efek yang diamati benar-benar disebabkan oleh intervensi gabungan.
Kelompok Kontrol (Pembelajaran Konvensional)
Kelompok ini akan melanjutkan dengan "pembelajaran konvensional"
Karakteristik pembelajaran konvensional ini umumnya "berpusat pada guru"
Pretest (O1) dan Posttest (O2): Fungsi dan Pengukuran
Pretest (O1): Diberikan kepada kedua kelompok sebelum perlakuan dimulai.
Nonequivalent Groups Design bukan hanya ukuran dasar; ini adalah pengaman metodologis yang kritis terhadap bias seleksi, yang merupakan ancaman utama terhadap validitas internal dalam kuasi-eksperimen. Dengan mengontrol skor pretest secara statistik (misalnya, menggunakan ANCOVA), peneliti dapat lebih percaya diri mengaitkan perbedaan posttest dengan intervensi daripada perbedaan kelompok yang sudah ada sebelumnya. Ini meningkatkan ketelitian desain kuasi-eksperimen.
Posttest (O2): Diberikan kepada kedua kelompok setelah perlakuan selesai.
IV. Detail Perlakuan (Intervensi) dan Setting Penelitian
Perlakuan Kelompok Eksperimen: Integrasi Kecerdasan Sosial Emosional dan Project-Based Learning
Perlakuan inti untuk kelompok eksperimen adalah integrasi Kecerdasan Sosial Emosional (KSE) dan Project-Based Learning (PjBL). Dalam kerangka penelitian ini, KSE adalah kompetensi yang diharapkan terbentuk pada peserta didik sebagai hasil dari proses Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) atau Social and Emotional Learning (SEL), sebagaimana dikembangkan oleh CASEL.
PjBL, di sisi lain, adalah pendekatan pembelajaran yang menekankan pada pembelajaran melalui proyek-proyek nyata.
Integrasi KSE dalam PjBL adalah inti dari perlakuan ini. PjBL menyediakan "konteks otentik bagi siswa untuk mempraktikkan kompetensi pembelajaran sosial emosional".
Perlakuan Kelompok Kontrol: Pembelajaran Konvensional
Kelompok kontrol akan menjalani proses pembelajaran pemrograman web yang sudah menjadi praktik standar atau "apa adanya" di SMKN 4 Bandung. Ini adalah baseline yang akan dibandingkan dengan perlakuan inovatif. Ciri-ciri pembelajaran konvensional ini, yang perlu dijelaskan secara rinci dalam proposal, meliputi:
Berpusat pada Guru (Teacher-Centered): Guru menjadi sumber informasi utama, dengan penyampaian materi melalui ceramah dan penjelasan langsung. "Semua kegiatan dalam pembelajaran konvensional bertumpu pada guru".
Guru bertanggung jawab penuh dalam menjelaskan materi, melakukan tanya jawab, membimbing siswa, mengawasi aktivitas, hingga menilai semua aspek pembelajaran.Individualis dan Kaku: Pembelajaran cenderung kurang mendorong kolaborasi dan lebih fokus pada penguasaan teknis individual tanpa banyak ruang untuk kreativitas atau pemecahan masalah bersama. "Gaya pengajaran pemrograman web yang terkesan individualis dan kaku dirasa menjadi salah satu permasalahan".
Fokus pada Sintaks dan Hafalan: Siswa mungkin mengalami kesulitan dalam "memahami dan menghafal sintaks pemrograman" serta logika algoritma karena kurangnya pendekatan kontekstual dan praktis.
Kurang Optimal dalam Pengembangan Keterampilan Abad ke-21: Pendekatan ini mungkin tidak secara eksplisit mengembangkan keterampilan seperti kerja tim, komunikasi yang sehat, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, yang esensial dalam dunia kerja digital.
Dengan secara jelas menggambarkan "pembelajaran konvensional" sebagai pendekatan yang berpusat pada guru dan berpotensi pasif, studi ini menetapkan dasar yang jelas untuk perbandingan. Kontras yang mencolok ini menyoroti nilai proposisi dari intervensi KSE+PjBL, menunjukkan bahwa kelompok eksperimen akan mengalami lingkungan belajar yang secara fundamental berbeda yang dirancang untuk mengatasi kekurangan yang teridentifikasi dari metode tradisional.
Durasi dan Frekuensi Pembelajaran (Minggu/Pertemuan)
Kegiatan penelitian, termasuk fase perlakuan, dijadwalkan berlangsung "selama tiga bulan".
Sebagai contoh, jika mata pelajaran pemrograman web memiliki 2-3 pertemuan per minggu, maka total pertemuan selama 3 bulan (sekitar 12 minggu) akan berkisar antara 24-36 pertemuan. Setiap pertemuan dalam kelompok eksperimen akan mengimplementasikan tahapan PjBL yang terintegrasi dengan pengembangan KSE, sementara kelompok kontrol akan mengikuti jadwal dan metode pembelajaran konvensional. Rincian ini penting untuk menunjukkan perencanaan yang matang dan konsistensi perlakuan. Menentukan durasi dan frekuensi intervensi secara spesifik sangat penting untuk replikabilitas dan generalisasi temuan. Hal ini memungkinkan peneliti lain untuk memahami intensitas perlakuan dan menilai apakah hasil serupa dapat dicapai di tempat lain. Memberikan angka konkret untuk durasi dan frekuensi menambah presisi pada metodologi, meningkatkan transparansi dan kegunaan praktis studi.
Variabel Penelitian dalam Konteks Desain Ini (Independen, Mediasi, Dependen)
Penelitian ini mengidentifikasi tiga jenis variabel utama yang akan diuji dalam kerangka desain kuasi-eksperimen:
Variabel Independen: Penerapan Kecerdasan Sosial Emosional dan model pembelajaran Project-Based Learning (PjBL).
Ini adalah variabel yang dimanipulasi atau diberikan sebagai perlakuan kepada kelompok eksperimen.Variabel Mediasi: Motivasi belajar siswa.
Penelitian ini menghipotesiskan bahwa motivasi belajar "memediasi pengaruh Kecerdasan Sosial Emosional dan Project-Based Learning terhadap hasil belajar siswa". Penyertaan variabel mediasi (motivasi belajar) mengangkat studi ini melampaui hubungan sebab-akibat sederhana. Ini menunjukkan pemahaman yang canggih tentangmekanisme di mana intervensi dapat beroperasi. Dengan kata lain, penelitian ini bergerak dari apa yang terjadi ke bagaimana dan mengapa itu terjadi, memberikan kontribusi teoritis yang lebih kaya.
Variabel Dependen: Hasil belajar pemrograman web.
Ini adalah variabel yang diukur untuk melihat dampak dari perlakuan. Hasil belajar ini bersifat komprehensif, meliputi aspek "kognitif, psikomotorik, dan afektif sesuai capaian pembelajaran Kurikulum Merdeka Fase F".
Mengaitkan variabel secara eksplisit dengan desain membantu membingkai seluruh pendekatan metodologis, menunjukkan bagaimana desain memfasilitasi pengujian hubungan teoretis yang kompleks, bukan hanya perbandingan sederhana.
V. Populasi, Sampel, dan Instrumen Pengumpulan Data
Penjelasan Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi: Seluruh peserta didik kelas XI RPL (Rekayasa Perangkat Lunak) di SMKN 4 Bandung yang mengikuti mata pelajaran pemrograman web.
Sampel: Terdiri dari "dua kelas: satu kelas sebagai kelompok eksperimen... dan satu kelas sebagai kelompok kontrol".
Teknik Pengambilan Sampel (Simple Random Sampling untuk Kelas): Meskipun siswa tidak diacak secara individual ke dalam kelompok, "Sampel diambil menggunakan teknik simple random sampling untuk memastikan kesetaraan peluang dalam pemilihan subjek".
kelas (kelompok utuh) adalah pilihan metodologis kritis yang, meskipun tidak mencapai randomisasi individu, secara signifikan memperkuat desain kuasi-eksperimen. Ini membantu meminimalkan bias sistematis dalam penugasan kelompok, membuat perbandingan antara kelompok eksperimen dan kontrol lebih kredibel. Ini adalah cara pragmatis untuk meningkatkan validitas internal studi dalam batasan lingkungan pendidikan.
Instrumen Pengumpulan Data yang Relevan dengan Desain (Tes Hasil Belajar, Angket, Observasi)
Data akan dikumpulkan melalui tes hasil belajar, angket, dan observasi. Instrumen yang digunakan akan diuji validitas dan reliabilitasnya untuk memastikan bahwa data yang dikumpulkan akurat dan konsisten.
Tes Hasil Belajar (Pretest & Posttest): Instrumen ini digunakan untuk mengukur penguasaan peserta didik terhadap materi pemrograman web sebelum dan sesudah perlakuan. Soal disusun berdasarkan Capaian Pembelajaran Kurikulum Merdeka Fase F dan telah melalui validasi isi (content validity) melalui expert judgment oleh dua dosen ahli dan seorang guru mapel RPL.
Reliabilitas instrumen akan diuji menggunakan rumus KR-20 untuk memastikan konsistensi internal soal objektif.Angket Kecerdasan Sosial Emosional: Dirancang untuk mengukur kemampuan KSE siswa berdasarkan lima dimensi Goleman (kesadaran diri, pengelolaan emosi, motivasi diri, empati, keterampilan sosial).
Angket ini menggunakan skala Likert lima poin.Angket Motivasi Belajar: Disusun berdasarkan model ARCS Keller (Attention, Relevance, Confidence, Satisfaction)
untuk mengukur motivasi belajar siswa. Instrumen ini juga menggunakan skala Likert.Lembar Observasi dan Penilaian Proyek: Digunakan untuk mengukur keterampilan psikomotorik dan aspek afektif (seperti kolaborasi, partisipasi aktif) dalam pelaksanaan proyek web. Instrumen ini menilai aspek perencanaan, implementasi teknis, kolaborasi tim, dokumentasi, dan presentasi hasil proyek.
Validitas dan Reliabilitas Instrumen: Seluruh instrumen akan diuji validitasnya (melalui validitas isi, konstruk, dan kriteria) dan reliabilitasnya (menggunakan Alpha Cronbach untuk angket dan KR-20 untuk tes objektif) untuk memastikan "data yang dikumpulkan akurat dan konsisten".
VI. Kesimpulan dan Rekomendasi Lanjutan
Ringkasan Poin Kunci Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimen jenis Nonequivalent Comparison Group Design with Pretest-Posttest, yang paling sesuai dan realistis untuk konteks pendidikan dengan "kelas apa adanya." Pemilihan kelas eksperimen dan kontrol dilakukan melalui simple random sampling pada tingkat kelas (bukan individu), yang membantu meminimalkan bias seleksi. Perlakuan utama adalah integrasi Kecerdasan Sosial Emosional dan Project-Based Learning, yang berfokus pada pengembangan keterampilan teknis dan non-teknis secara sinergis, sejalan dengan tuntutan Kurikulum Merdeka. Pembelajaran konvensional berfungsi sebagai kelompok kontrol yang terdefinisi dengan jelas, memberikan baseline yang kuat untuk perbandingan. Penggunaan pretest sangat krusial untuk mengontrol perbedaan awal antar kelompok, secara signifikan meningkatkan validitas internal studi. Durasi penelitian yang terdefinisi (tiga bulan) akan memastikan implementasi perlakuan yang memadai dan konsisten. Pengumpulan data yang komprehensif melalui tes, angket, dan observasi akan mengukur hasil belajar secara holistik (kognitif, psikomotorik, afektif) serta variabel mediasi (motivasi belajar). Sintesis elemen-elemen ini menunjukkan kerangka metodologis yang koheren dan beralasan. Ringkasan ini berfungsi sebagai argumen penutup yang kuat untuk ketahanan desain yang dipilih, terlepas dari sifat kuasi-eksperimennya. Ini menunjukkan bahwa berbagai komponen desain telah diintegrasikan menjadi satu kesatuan yang logis dan kuat.
Langkah Selanjutnya dalam Penyusunan Bab 3
Untuk lebih menyempurnakan Bab 3 proposal tesis, beberapa langkah lanjutan direkomendasikan:
Perjelas Detail Implementasi Perlakuan: Meskipun durasi tiga bulan telah disebutkan, rincikan lebih lanjut berapa pertemuan per minggu, alokasi waktu per pertemuan, dan bagaimana setiap fase PjBL (penentuan proyek, perencanaan, dll.) akan diintegrasikan secara eksplisit dengan pengembangan KSE dalam jadwal tersebut. Membuat tabel jadwal perlakuan akan sangat membantu untuk visualisasi yang lebih detail.
Justifikasi Statistik untuk Kontrol Pretest: Dalam bagian Teknik Analisis Data, perkuat penjelasan mengenai bagaimana uji statistik (misalnya, Uji-t dengan ANCOVA atau regresi yang mengontrol pretest) akan digunakan untuk mengatasi potensi ketidaksetaraan awal antar kelompok akibat non-randomisasi individu. Ini akan lebih lanjut meyakinkan profesor tentang validitas internal studi.
Pembahasan Potensi Ancaman Validitas Internal: Meskipun desain ini kuat, akan sangat baik jika secara singkat membahas potensi ancaman validitas internal yang mungkin muncul dalam desain kuasi-eksperimen (seperti maturasi, sejarah, regresi ke mean, seperti yang disinggung
) dan bagaimana desain (terutama melalui pretest dan kontrol statistik) berupaya memitigasinya. Secara proaktif mengatasi potensi kelemahan metodologis dan menguraikan strategi mitigasi menunjukkan tingkat ketelitian akademik dan pandangan ke depan yang tinggi. Ini adalah ciri khas penelitian tingkat ahli.Rencana Etika Penelitian: Pastikan untuk menambahkan sub-bagian mengenai pertimbangan etika penelitian, termasuk proses mendapatkan informed consent dari siswa (jika di bawah umur, dari orang tua/wali) dan izin dari pihak sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa peneliti telah mempertimbangkan implikasi praktis dan etis dari penelitian.
Dengan menerapkan rekomendasi ini, Bab 3 proposal tesis akan menjadi lebih komprehensif, jelas, dan meyakinkan, mencerminkan pemahaman mendalam tentang metodologi penelitian kuasi-eksperimen.

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home