Sunday, October 21, 2012

Musim yang lain

Aku pernah mengingat tentang musim yang lain, musim dimana aku akan terus mengejarmu.
Aku pernah mengingat tentang musim yang lain, musim dimana aku terperi tak henti
Aku pernah mengingat tentang musim yang lain, musim dimana aku takut kehilangan.
Aku pernah mengingat tentang musim yang lain, musim dimana aku merasa berharga dan dihargai.
Aku pernah mengingat tentang musim yang lain, musim dimana aku merasakan penantian yang teramat panjang.

I was remembered of another season, the season where I would always after you.
I was remembered of another season, the season where I rusted in everlasting pain
I was remembered of another season, the season where I was terrified of losing
I was remembered of another season, the season where I feel precious and recognized
I was remembered of another season, the season where I feel constantly long last waiting

  

seen on Caley Rye

Labels: , , , ,

Sunday, September 16, 2012

Pantheon & Fontana di Piazza Della Rotonda Full Review


Pantheon
Yeaay ~ so happy , akhirnya tiba saatnya untuk mengulas tentang Pantheon dan Fontana di Piaza della rotunda

Pantheon
Masa Pembangunan : 118M – 128M
Lokasi :Roma, Italia
Constructed by : Hadrian (Roman Emperor)

Pantheon adalah kuil yang dipersembahkan untuk semua dewa-dewi, Pantheon dari Roma adalah bangunan bangunan terawet dan terbaik dan paling signifikan dalam sejarah arsitektur. Bentuknya merupakan silinder sangat besar yang menyembunyikan 8 pilar di baliknya, dengan diatapi kubah berdiameter 43,2 m.

Pantheon didirikan oleh kaisar romawi Hadrian, antara tahun 118 dan 128 M. Menggantikan sebuah kuil yang dibangun oleh negarawan Marcus Vipsanius Agrippa di tahun 27 SM yang di awal abad ke 7 ditahbiskan sebagai gereja.

Pantheon juga mengacu pada bangunan yang berfungsi sebagai makam bagi tokoh terkemuka.
Well that’s enough bout the shining pantheon, now it’s turn for my favourite, 


Fontana di Piazza della Rotonda
Fountain in Piazza della Rotonda

Masa Pembangunan : 1575M– 1711M
Lokasi :Roma, Italia
Costructed by : Giacomo Della Porta under Pope Gregory XIII in 1575, and the obelisk was added to it in 1711 under Pope Clement XI.

Fontana di Piazza della Rotonda berlokasi di tengah square di Roma, tepat di depan Pantheon.
Kapan Fontana di Piazza della Rotonda dibuat? Air Mancur ini dibuat  setelah pemulihan saluran air Aqua Virgo. Dan air mancur ini perancangannya dipercayakan kepada Leonardo Sormani.

Fontana di Piazza della Rotonda ini dibuat untuk merayakan  perayaan kreasi 18 fountain dengan cara menciptakan rangkaian 18 air mancur.

Tahukah kalian, bahwa air mancur yang indah ini pada masa pemerintahan Clement XI, lokasinya pernah dijadikan sebagai pasar ikan dan sayuran yang kebetulan diselenggarakan di Roma Square. Yang bahkan sampai ke barisan pilar terluar  Pantheon. (Well, that’s .. horrible). Tapi akhirnya selama masa restorasi di tahun 1804, Paus Pius berhasil memindahkan kegiatan perdagangan pasar tersebut ke Piazza Navona, dan berhasil mengembalikan martabat alun-alun. 

Namun sebuah laporan melaporkan bahwa di tahun 1836 kumpulan para penjual ikan menempati tempat di Fontana di Piazza della Rotonda lagi dan memanfaatkan cekungan yang ada pada air mancur untuk menjaga agar ikan-ikan tetap segar dan hidup. (Well, that’s another story -_-) Yang menyebabkan dibuatnya penghalang disekitar  air mancur pada saat itu.

Dan akhirnya di tahun 1886 pagar yang melindungi air mancur tersebut di lepas sehingga Fontana di Piazza della Rotonda tampak seperti sekarang.

 The thing is , Pantheon dan Fontana di Piazza della Rotonda ini berhadap-hadapan 
Pantheon dan Fontana di Piazza della Rotonda, view from above
Kelihatan air mancurnya ? kira kira berapa meter ya kesana :)

Apa yang akan kita lihat saat tengadah

Pantheon Entrance, Direct view to Fontana di Piazza Della Rotonda

Well ~~ bagi yang ingin melihat apresiasi saya mengenai Pantheon dan Fontana Di Piazza Della Rotonda, silahkan kunjungi posting ----> ini

Dan untuk review dari apresiasi tersebut , silahkan kunjungi posting -----> ini






Labels: , , , , , , , ,

Thursday, September 6, 2012

Fontana di piazza della Rotonda

Di sinilah ia, memandang iba dengan tak kasat mata ke atas langit biru tanpa satupun awan yang berarak. Menyipitkan mata antara ingin dan tak ingin, merasakan angin berhembus pelan tanpa memedulikan lalu lalang keramaian disekitarnya.  Di ujung Piazza della Rotonda, tepat di depan matanya Pantheon, di ujung matanya saat ia membuka mata, Pantheon, di setiap matanya berputar untuk mencari hal lain untuk dipandang, Pantheon. Disinilah tempat impian semasa kecilnya bergantung, tempat masa remajanya berakhir dengan melewati ujung jalan ini hampir 6 hari dalam seminggu, tempat awal usia kepala duanya dimulai. Luce.

“Luce” Ia menoleh ke arah pemilik suara yang memanggil nama itu.


“Kau sudah selesai? Ibu sudah menunggumu sejak empat puluh menit lalu. Ayo kuantar kau segera kesana ” Sahutnya sambil terburu-buru membantunya tanpa menatap tatapan kosong sang gadis berkursi roda.


Luce. Katanya parau, ia menatap sepasang orang yang sepertinya kakak beradik itu menghilang diujung jalan diantara keramaian hilir mudik pengunjung kompleks wisata Pantheon. Menghela nafas bukan hal yang selalu diinginkannya, bukan juga hal yang menjadi kebiasan naluriahnya. Hanya saja ia seperti mengenal gadis itu, selamanya. Ia mengetahui gadis bernama Luce itu sedari remaja. Gadis itu selalu berada di sekitar Pantheon, menghadap ke arah air mancur yang berada di seberang Pantheon. Melihat gadis itu terdiam tenang di dekat tiang penyangga paling kanan Pantheon saat ia hendak pulang sekolah, melihat gadis itu nekat turun dari kursi rodanya namun tidak berhasil disuatu akhir pekan yang penuh turis asing, menyaksikan gadis itu akhirnya berhasil duduk di pelataran Pantheon setelah tiga hari kemudian dengan cara kedua tangan sekaligus berpegangan erat ke tiang penyangga paling ujung. Atau bahkan melihat gadis tersebut menolong turis asia yang meminta bantuannya untuk memotret mereka dengan latar belakang air mancur Fontana di piazza della Rotonda.


Ya, yang selama ini dia tahu, gadis yang selalu di panggil Luce itu selalu menatap dengan berbagai ekspresi pada Fontana di piazza della Rotonda. Seperti seumur hidupnya, ia bagaikan menyaksikan Luce dengan berbagai aktivitas yang ia miliki dan dihabiskan di pelataran Pantheon selama berjam-jam lamanya, termenung menatap air mancur Fontana di piazza della Rotonda. Bertahun-tahun yang ia habiskan disepanjang jalanan ini, berangkat sekolah, membantu neneknya, mengantar kerabat dekat mengunjungi Pantheon, atau membeli makanan di seberang jalan. Tak pernah sekalipun Ia melihat Luce melewatkan harinya tanpa dihabiskan disana. Luce selalu ada disana, berdiam diri seperti orang yang jiwanya melayang entah kemana, atau menatap penuh semangat ke arah puncak air mancur itu.


Baru setelah bertahun-tahun ia lewati masa demi masa dari umur yang ia miliki, Ia baru menyadari betapa lembutnya Luce yang selalu setia menatap Fontana di piazza della Rotonda itu. Tatapan lembut matanya, gerak pelan tubuhnya, atau sayu senyum heningnya. Luce. Hanya satu kata yang ia tahu, Luce yang ini begitu setia, begitu nekat untuk berada disana, di seberang Fontana di piazza della Rotonda dan menatap air mancur itu entah karena sakit jiwa atau kelainan atau mungkin gadis itu memang tulus adanya.


Sekarang diawal usia dua puluhannya ia bermaksud menetap disini, kota dimana ia dibesarkan dari semasa kecil, kota tempat keluarganya tinggal, kota tempat kakek dan neneknya membesarkannya, kota tempat kakek dan neneknya meninggalkannya, kota tempat kakek dan neneknya dikuburkan di tempat peristirahatan terakhir. Kota seribu kenangan dengan kebesaran Pantheon, Coliseum, dan bahkan Fontana di piazza della Rotonda. Ia lalui hari-harinya yang masih dapat ia gapai, dengan melukis portrait para turis dengan sentuhan seni lukis yang ia miliki. Kadang saat jasa lukisnya sepi peminat, ia akan terbiasa dengan melukis kebesaran Pantheon, Kuil yang dipersembahkan untuk seluruh dewa dewi. Melukis setiap pilarnya dengan seksama, setiap detail pada kubah silindernya dari sisi dimana ia berada, oh Hadrian, andai kau tahu berapa banyak orang yang memuja karyamu saat ini. Di sini di sudut jalan dekat Fontana di piazza della Rotonda, seberang Pantheon, ia berlatih untuk melancarkan satu-satunya kemampuannya yang dapat membuatnya layak masuk Università degli Studi di Roma Tor Vergata.



***

Rambutnya hitam kecoklatan, semula selalu diikat, namun sekarang selalu diurai, ia berjaket sangat tebal di musim dingin. Kadang membawa beberapa batang coklat, dan menghabiskannya sendirian. Jika ia selesai dengan makanan dan minumannya, ia tersenyum ke arah air mancur itu. Seperti satu-satunya orang yang bahagia karena di dunia ini tuhan masih mengizinkan air mancur itu ada, seakan abadi, setidaknya untuk dirinya. Jika hujan salju tiba, ia tidak tahu apa yang terjadi pada Luce, karena ia sendiripun selalu berdiam diri dirumah saat cuaca beralih tidak mendukung.


Akhir-akhir ini Luce lebih mudah ditemui di sekitar pelataran Pantheon, namun Luce disana, jauh dari keramaian turis yang berlalu lalang seenaknya, tanpa ada rasa iba terhadap gadis berkursi roda di sudut pelataran. Luce lebih sering tersenyum sekarang, mungkin mengiba terhadap langit biru, atau lagi-lagi terhadap Fontana di piazza della Rotonda. Ya ampun, aku pasti lupa betapa naksirnya Luce pada air mancur ini, gumamnya suatu hari saat mengerjakan sebuah lukisan. Entah apa yang ada dipikiran Luce yang selalu menatap air mancur ini tanpa henti, dimana ia selalu merenung. Sepertinya jika ia menjadi Luce, ia akan memilih menatap Pantheon sebagai objek panorama yang disukainya, kuil dengan ribuan marmer berwarna-warni yang menghiasi lantainya dan kubah menjulang tinggi yang menempel kokoh dilangit-langit dalamnya. Ia tak habis pikir mengapa diantara ribuan air mancur diseluruh Italia, Luce sangat mengagumi Fontana di piazza della Rotonda.


Sedangkan  ia sangat mengagumi Pantheon.


***


Ia melukis Pantheon lagi, Pantheon yang sangat dikaguminya. Ia melukis dari sudut pandang yang berbeda setiap kalinya, sehingga setiap karya yang ia buat dari Pantheon, tidak ada yang pernah benar-benar serupa atau terlihat sama. Rambutnya hitam kecoklatan, jaketnya berwarna merah kali ini, senyumnya tulus, tatapannya hangat, terduduk diam di pelataran sudut Pantheon diatas… Kursi Roda?


Ia terkesiap dengan apa yang baru ia kerjakan, sudah hampir enam kali ia melukis Pantheon dengan Luce di dalamnya. Dan kali ini dengan detail yang lebih spesifik, dengan hati dan perasaan yang tetap tidak menyadari, namun panca indera yang lebih dulu sadar akan apa yang diinginkannya dan menuangkannya dalam lukisan tanpa meminta izin terlebih dahulu terhadap hati dan perasaan.


Luce, apakah kau bahkan tahu namaku? Pikirnya suatu waktu.



***


    Oh Pantheon,

    Oh Fontana di piazza della Rotonda,


    Kalian diciptakan berhadap-hadapan


    Satu sama lain.


    Dalam suatu waktu tanpa pengecualian,


    Akan kah semuanya mungkin terjadi,


    Sampai tak ada jarak di antara kalian?

Rambutnya hitam kecoklatan, jaketnya berwarna merah kali ini, senyumnya tulus, tatapannya hangat, namun ia tidak terduduk diam di pelataran sudut Pantheon dengan kursi roda. Karena aku mendorong kursi rodanya, ke sebuah tempat yang baru. Dengan tawa kecil yang dilontarkan sang pemilik kursi roda. Hei Nona, ini awal pertama aku melihatmu tersenyum saat meninggalkan pelataran Pantheon, kita semakin dekat ke seberang, agar kau bisa menggapai arak airnya seperti dirimu yang penuh cahaya, menuju Fontana di piazza della Rotonda.





Story and Illustration Copyright Hana Zainab Mukarromah

Labels: , , , , , , , , , , ,