Hana Zainab Mukarromah's blog, journal, preferable diary, and reminder.
Thursday, December 20, 2012
Allah Itu Maha Adil, and Life Happens
Yang menentukan kiamat itu Allah ko . Bukan alam atau kalender perhitungan orang jadul sekalipun . Memang akan terjadi .
Terus mengenai ramalan itu tergantung hemat akal dari setiap individu . Mau percaya silahkan mau tidak silahkan . Yang pasti jika lebih mempercayai ramalan ketimbang Sang Maha Penentu Takdir sendiri , konsekuensi akan keimanannya dipertanyakan.
Tahu ramalan itu apa ? Ramalan itu adalah berita yang dicuri dengar oleh para jin di atas langit yang mereka sampaikan ke telinga dukun, atau kalau jaman sekarang mungkin bukan dukun, tapi peramal atau ki joko, dan ki apapun lainnya.
Ngeri ? engga .. lebih ngeri orang yang percaya sama ramalan tersebut dibanding percaya sama Sang penentu Takdir.
Jgn percaya media, percayalah fakta, jgn percaya fakta, percayalah iptek, jgn percaya iptek, percayalah Sang Maha Sumber Ilmu pengetahuan
Ga usah riweuh lah tanggal 21 Desember 2012 ada apaan .. yang perlu dibuat panik itu kesiapan kita, kapanpun waktunya kita sudah siap belum ? Kalau belum siap, jangan salahkan siapapun karena waktu kita tidak cukup.
Karena apapun yang terjadi .. Syukur alhamdulillah kita telah diberikan waktu untuk bersiap kembali ke tempat kekal nan abadi.
Jika blm bisa mempersembahkan apa yg telah kita kerjakan selama hidup, hal yg akan dilihat adalah usaha, usaha itu dinilai, bukan hanya hasil saja yang dinilai.
Keimanan tdk ditujukan dan dinilai sesama manusia, keimanan untuk Maha Pencipta yang berupa pengabdian dari seorang hamba.
Loving him is like driving a new Maserati down a dead end street
Faster than the wind
Passionate as sin, ended so suddenly Loving him is like trying to change your mind Once you’re already flying through the free fall
Like the colors in autumn
So bright just before they lose it all
Losing him was blue like I’d never known
Missing him was dark grey all alone Forgetting him was like trying to know somebody you've never met But loving him was red Loving him was red
Touching him is like realizing all you ever wanted was right there in front of you
Memorizing him was as easy as knowing all the words to your old favorite song
Fighting with him was like trying to solve a crossword and realizing there’s no right answer
Regretting him was like wishing you never found out love could be that strong
Losing him was blue like I’d never known Missing him was dark grey all alone Forgetting him was like trying to know somebody you've never met
But loving him was red Oh red burning red
Remembering him comes in flashbacks and echoes
Tell myself it’s time now, gotta let go But moving on from him is impossible
When I still see it all in my head
Burning red!
Darling it was red!
Oh, losing him was blue like I’d never known
Missing him was dark grey all alone
Forgetting him was like trying to know somebody you've never met
Cause loving him was red yeah yeah red
We're burning red
And that's why he's spinning round in my head
Comes back to me burning red
Yeah yeah
Cause love was like driving a new Maserati down a dead end street
Broken, this fragile thing now And I can't, I can't pick up the pieces. And I've thrown my words all around, But I can't, I can't give you a reason.
I feel so broken up (so broken up), And I give up (I give up), I just want to tell you so you know..
Here I go, Scream my lungs out and try to get to you, You are my only one. I let go, There's just no one that gets me like you do You are my only, My only one.
Made my mistakes, let you down And I can't, I can't hold on for too long. Ran my whole life in the ground And I can't, I can't get up when your gone.
And something's breaking up (breaking up), I feel like giving up (like giving up), I won't walk out until you know..
Here I go Scream my lungs out and try to get to you, You are my only one. I let go There's just no one that gets me like you do You are my only, My only one.
Here I go, So dishonestly. Leave a note For you my only one. And I know, You can see right through me. So let me go And you will find someone.
Here I go, Scream my lungs out and try to get to you, You are my only one. I let go, There's just no one, no one like you You are my only, My only one.
My only one My only one My only one You are my only, My only one.
Falling In Love In A Coffee Shop Lyrics - Landon Pigg
I think that possibly, maybe I’m falling for you
Yes there’s a chance that I’ve fallen quite hard over you.
I’ve seen the paths that your eyes wander down
I want to come too…
I think that possibly, maybe I’m falling for you
No one understands me quite like you do
Through all of the shadowy corners of me
I never knew just what it was
About this old coffee shop I love so much
All of the while I never knew…
Ahh…
I think that possibly, maybe I’m falling for you
Yes there’s a chance that I’ve fallen quite hard over you.
I’ve seen the waters that make your eyes shine
now I’m shining too
Because, oh because
I’ve fallen quite hard over you
If I didn’t know you, I'd rather not know
If I couldn’t have you, I'd rather be alone
I never knew just what it was
About this old coffee shop I love so much
All of the while, I never knew
I never knew just what it was
About this old coffee shop I love so much
All of the while, I never knew
All of the while, All of the while it was you
You…
You…
You…
Galau adalah jika kamu pergi ke suatu tempat yang biasa kamu kunjungi setiap hari, tapi kamu melamun sendiri tanpa bicara apapun dengan siapapun sampai kamu tiba di tempat tujuan dengan keadaan hampir terlewat karena ketiduran.
Galau adalah jika kamu melakukan aktivitas yang seharusnya kamu lakukan dengan ceria tapi kamu bahkan tidak mengingat bagaimana ekspresi kamu saat melakukan aktivitas tersebut diesok harinya.
Galau adalah kamu merasakan perlu memiliki waktu sendirian tapi hal yang terjadi malah kamu mendapati orang lain bercerita tentang kehidupannya yang membahagiakan, dan ironisnya kamu terlalu berbahagia pula atas hidup orang lain dengan cara yang rasanya berlebihan
Galau adalah ketika kamu bersosialisasi dengan teman-temanmu tertawa lepas membicarakan hal yang lumrah tapi tidak memfokuskan diri terhadap apa yang dibicarakan sehingga kamu sering lupa untuk memilih diksi yang benar.
Galau adalah ketika kamu merasa sangat banyak aktivitas tapi tidak menyadari bahwa hal-hal yang kamu lakukan begitu melelahkan.
Galau adalah ketika kamu sendirian lagi tapi lebih memilih untuk memikirkan masalah orang lain yang tidak ada hubungannya dengan dirimu.
Galau adalah ketika kamu ingin membicarakan masalah tersebut terhadap orang lain tapi dirimu tidak mampu dan jiwamu tidak mengizinkan hal tersebut terjadi
Galau adalah ketika kamu secara tidak sadar menghela nafas dan bergumam sendiri karena masalahmu walaupun diantara kerumunan orang yang lalu lalang
Galau adalah ketika kamu tidak memikirkan seorang pun yang berhubungan dengan masalahmu namun kamu lebih memilih bergumam sendiri menyebutkan nama Sang Penciptamu untuk membantumu melewati sisa hari.
Galau adalah ketika kamu menunggu pintu untuk dibukakan namun terasa sangat lama padahal hanya beberapa detik.
Galau adalah ketika kamu berdiri menatap langit malam dan berdo'a lagi agar tidak melewati hal galau lagi esok hari
Galau adalah ketika kamu bermaksud untuk tweeting tapi tidak mampu dan tidak mengizinkan diri sendiri walaupun ada koneksi dan ada fasilitas.
Galau adalah ketika kamu menyimpan semuanya sendiri hingga tidur dan tidak sadarkan diri walaupun tidur lebih awal dan bangun kesiangan
Galau adalah pasrah karena hal yang kamu ingat dari mimpimu sama sekali tidak membantu masalahmu bahkan membuat semua masalahmu jadi lebih rentan.
Galau adalah ketika kamu tidur lagi dipagi harinya padahal sama sekali tidak butuh tidur.
Bukan galau jika kamu memutarkan musik patah hati atau musik yang liriknya galau
Bukan galau jika kamu menuliskan lirik galau pada setiap sosial media
Bukan galau jika kamu posting sesuatu dan membicarakan bahwa kamu galau
Bukan galau jika kamu memberi kode terhadap seorang pun di sosial media
Bukan galau kalau kamu sampai lupa terhadap siapa seharusnya kamu mengadu
Bukan galau kalau kamu membiritahukan kepada siapapun bahwa kamu sedang galau
Kebiasaan sejak kecil, kalau keluar
rumah harus dan selalu akan secara otomatis melihat keadaan langit.
Langitnya wonderfully subhanallah. Ada bintang benderang di
arah barat laut, dan dia tidak berpendar, bintang langganan yang biasa penulis
lihat di awal pagi. “Oh mungkin itu venus, yang pagi-pagi suka kelihatan, di
buku IPA kan begitu.. Venus itu kelihatan jelas diawal pagi” begitu pikir
penulis. Penulis pun menyempatkan untuk memotret dengan kemampuan memotret
seadanya, pokoknya bintang cantik yang nampak menjadi titik putih teramat kecil
di LCD kamera itu harus dapat diabadikan. Dengan berbagai perjuangan, karena
awalnya sang lensa kamera tidak mau fokus secara langsung pun akhirnya sebuah
pencitraan akan bintang cantik yang penulis terka sebagai sang Venus ini dapat
diabadikan. Pada waktu 5:03, Nampak Kecil sekali ya ? memang ._.
Beberapa menit bertafakurpun berlalu, dan tafakur ini
benar-benar membuat penulis berpikir bahwa Venus itu munculnya di ufuk timur
-_- , penulis pasti salah kira ._. totally salah kira. Penulis pun melihat ke
langit timur, dan disana benar-benar ada si bintang ufuk timur, neneng venus
yang dicari. “Oh iya, dari dulu venus kalau nampak di pagi hari ‘kan akan
muncul disitu” penulis pun kebingungan seperti “If there’s Venus, then who’s
that?” pikiran penulis rada ngabojeg [1](emang
orang, ditanya siapa).
Penulis pun beralih ke halaman depan untuk mengambil
pencitraan yang lain, masih dengan kemampuan memotret seadanya . Ufuk timur
mulai berwarna biru ke jinggaan (ada biru kemerahan, tapi kenapa ga ada biru
kejinggaan?) it’s a morning sky ~~
Dan ini untuk pencitraan dari langit timur di pagi ini.
Maafkan untuk banyaknya kabel telepon (atau kabel apapun itu) yang menghalangi.
Maka, setelah penulis puas Star-Gazing dengan Barely Eyes di
pagi hari, masih penuh dengan rasa penasaran yang tidak baik jika dibiarkan
terlalu lama, penulis pun ‘menanyakan’ kepada aplikasi andalan untuk star
gazing tadi.
Benar ternyata, yang di ufuk timur itu memang venus, yang
mana sesuai dengan teori Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam di Sekolah Dasar dulu,
bahwa Venus akan nampak di ufuk timur di pagi hari.
Karena masih penasaran dengan bintang cantik pertama yang penulis
temui dipagi ini, WOW bahagianya setelah tahu bahwa bintang cantik yang
wonderfully subhanallah ini adalah Jupiter. “Ternyata dia si Jupiter, selama
ini dia adalah Jupiter dan tidak pernah mengenalkan diri” pikir penulis rada ngabojeg[1]
Maka, bintang gemerlap tanpa pendaran yang muncul di awal
pagi ini namanya Jupiter
Gambar Jupiter lagi Cropped,
Spoiler for Jupiter :
Magnitude : -2.54
Absolute magnitude: 25.87
RA/DE (j2000): 4h58m11s/+21°49’19.0”
Dua teori yang memicu penulis untuk menulis hal-hal tentang Wonderfully sky
ini, adalah
-Bintang yang benderang tetapi tidak berpendar itu adalah
planet
-Bintang benderang yang muncul di ufuk timur di pagi hari
adalah Venus.
Penulis bersyukur karena dengan segala yang sang Maha
Pencipta telah ciptakan, ras manusia sebagai salah satu mahlukNya dapat
memanfatkan eksistensi dari segala yang ada di langit maupun bumi sebagai
bentuk tafakur terhadap eksistensi sang Maha Pencipta.
Aku pernah mengingat tentang musim yang lain, musim dimana aku akan terus mengejarmu.
Aku pernah mengingat tentang musim yang lain, musim dimana aku terperi tak henti
Aku pernah mengingat tentang musim yang lain, musim dimana aku takut kehilangan.
Aku pernah mengingat tentang musim yang lain, musim dimana aku merasa berharga dan dihargai.
Aku pernah mengingat tentang musim yang lain, musim dimana aku merasakan penantian yang teramat panjang.
I was remembered of another season, the season where I would always after you. I was remembered of another season, the season where I rusted in everlasting pain I was remembered of another season, the season where I was terrified of losing I was remembered of another season, the season where I feel precious and recognized I was remembered of another season, the season where I feel constantly long last waiting
Oh hello there ~
long time no post, half existence in hiatus from this blogger ~
Minggu kali ini, dikelas pemrograman Java semester 5 tepatnya akan mempelajari GUI Graphical User Interface . Dan 2 minggu dari sekarang dan minggu kedepan, kami akan mempelajari AWT, Abstract Windowing Toolkit.
View from our class
lihat kesaanaaa, ada apa di layar ? :)
It's a bunny ! a cat, and tremendously yellowish SMILEY face
membuat grafik dan menampilkan gambar pada javaaaaaaaaaa ~~~~
Sangat sayang dengan lagu ini, It's L'Arc ~ en ~ Ciel The Fourth Avenue Café. Dikenal juga sebagai Izumi You, namun sangat dikenal karena lagu ini sengaja dibuat untuk Original Soundtrack Anime ternama Rurouni Kenshin , atau Samurai X. Lagu nya dan hingar bingar musiknya sangat rentan hinggap tak kunjung pergi di kepala,
Description: 4th Ending Theme
Lyrics by hyde Music by ken Performed by L'Arc~en~Ciel
Original / Romaji Lyrics
Kisetsu wa odayaka ni, owari wo tsugeta ne
Irodorareta kioku ni yosete sayounara
Ai wo kureta ano hito wa, kono hitomi ni yurameite ita
Togirenai kimochi nante hajime kara shinjite nakatta
Utsuriyuku machinami ni torinokosareta mama,
yukikau ano hitobito ga, ima wa tooku ni kanjirarete
Zawameki sae usurete wa, tameiki ni kiete shimau
Kuuseki ni mitsumerareta, taikutsu na kyuujitsu ni wa
Owaru koto naku anata ga nagaretsudzukete iru
Wakatte ite mo kidzukanai furi shite
Oborete ita yo, itsudemo Dareka no koto omotteru, yokogao demo suteki datta kara
Kisetsu wa odayaka ni, owari wo tsugeta ne
Irodorareta kioku ni yosete sayounara
Ai wo kureta ano hito wa, kono hitomi ni yurameite ita
Ato dore kurai darou?, soba ni ite kureru no wa Sou, omoinagara toki wo kizande ita yo
Yosete wa kaeshiteku oh nami no you ni, kono kokoro wa sarawarete
Kyou mo machi wa aimokawarazu omoimegurase
Sorezore ni egaite yuku oh Sayounara ai wo kureta ano hito wa, tooi sora ni koikogarete,
kono hitomi ni yurameite ita
Utsuriyuku machinami ni tameiki wa koboreta
English Translation
The season told me calmly about the end I gather colourful memories and I say goodbye to them That person who gave me love, was shaking in these eyes I didn't believe from the beginning in continuous feelings Being abandoned in changing towns, I can feel at the distance, those people who come and go Even the noise goes down and disappears in a sigh In a boring holyday, I could stare at the vacancy You who doesn't have an end, continues to wander Although I know it, I pretend I don't realize about it I've always been obsessed with her I was thinking of somebody, because even her profile face was adorable The season told me calmly about the end I gather colourful memories and I say goodbye to them That person who gave me love, was shaking in these eyes
How long will you be by my side? So, while I was thinking, the time was elapsing This heart is being kidnapped, and oh, comes and goes like a wave Take again into account that today towns are as usual too Oh, I will go drawing on each of them That person who gave me love and sayed goodbye, fell in love with the far sky and was shaking in these eyes In changing towns, my sighs overflowed
Pantheon & Fontana di Piazza Della Rotonda Full Review
Pantheon
Yeaay ~ so happy , akhirnya tiba saatnya untuk mengulas
tentang Pantheon dan Fontana di Piaza della rotunda
Pantheon
Masa Pembangunan : 118M – 128M
Lokasi :Roma, Italia
Constructed by : Hadrian (Roman Emperor)
Pantheon adalah kuil yang dipersembahkan untuk semua
dewa-dewi, Pantheon dari Roma adalah bangunan bangunan terawet dan terbaik dan
paling signifikan dalam sejarah arsitektur. Bentuknya merupakan silinder sangat
besar yang menyembunyikan 8 pilar di baliknya, dengan diatapi kubah berdiameter
43,2 m.
Pantheon didirikan oleh kaisar romawi Hadrian, antara tahun
118 dan 128 M. Menggantikan sebuah kuil yang dibangun oleh negarawan Marcus
Vipsanius Agrippa di tahun 27 SM yang di awal abad ke 7 ditahbiskan sebagai
gereja.
Pantheon juga mengacu pada bangunan yang berfungsi sebagai
makam bagi tokoh terkemuka.
Well that’s enough bout the shining pantheon, now it’s turn
for my favourite,
Fontana di Piazza della Rotonda berlokasi di tengah square di
Roma, tepat di depan Pantheon.
Kapan Fontana di Piazza della Rotonda dibuat? Air Mancur ini
dibuat setelah pemulihan saluran air
Aqua Virgo. Dan air mancur ini perancangannya dipercayakan kepada Leonardo
Sormani.
Fontana di Piazza della Rotonda ini dibuat untuk
merayakan perayaan kreasi 18 fountain
dengan cara menciptakan rangkaian 18 air mancur.
Tahukah kalian, bahwa air mancur yang indah ini pada masa
pemerintahan Clement XI, lokasinya pernah dijadikan sebagai pasar ikan dan
sayuran yang kebetulan diselenggarakan di Roma Square. Yang bahkan sampai ke barisan
pilar terluar Pantheon. (Well, that’s ..
horrible). Tapi akhirnya selama masa restorasi di tahun 1804, Paus Pius
berhasil memindahkan kegiatan perdagangan pasar tersebut ke Piazza Navona, dan
berhasil mengembalikan martabat alun-alun.
Namun sebuah laporan melaporkan bahwa di tahun 1836 kumpulan
para penjual ikan menempati tempat di Fontana di Piazza della Rotonda lagi dan
memanfaatkan cekungan yang ada pada air mancur untuk menjaga agar ikan-ikan
tetap segar dan hidup. (Well, that’s another story -_-) Yang menyebabkan
dibuatnya penghalang disekitar air
mancur pada saat itu.
Dan akhirnya di tahun 1886 pagar yang melindungi air mancur
tersebut di lepas sehingga Fontana di Piazza della Rotonda tampak seperti
sekarang.
The thing is , Pantheon dan Fontana di Piazza della Rotonda ini berhadap-hadapan
Pantheon dan Fontana di Piazza della Rotonda, view from above
Kelihatan air mancurnya ? kira kira berapa meter ya kesana :)
Apa yang akan kita lihat saat tengadah
Pantheon Entrance, Direct view to Fontana di Piazza Della Rotonda
Well ~~ bagi yang ingin melihat apresiasi saya mengenai Pantheon dan Fontana Di Piazza Della Rotonda, silahkan kunjungi posting ----> ini
Dan untuk review dari apresiasi tersebut , silahkan kunjungi posting -----> ini
So there's my short story is,
Akhirnya selesai juga membuat sebuah cerpen. ~~
Buatnya kemarin, dan selesai kemarin juga. Inspirasi.. untuk saat ini entah dari mana jalan ceritanya bisa seperti itu, hanya saja sedari dulu tertarik untuk membuat sebuah cerita yang 'so sweet', 'singkat', 'oh ternyata_feels','sedikit mengelabui', dan misterius. Kind of, having so much fun in that story.
Pernah dulu waktu masih labil saat MTs bikin sebuah cerpen yang alhasil saya ga ngerti maksudnya kemana. Kind of love story too, tapi saya rasa isinya terlalu bahagia dan blak-blakan. Namun saat ini, setelah saya lebih lama hidup (#_# ), lebih banyak menyaksikan cerita di sekitar, kehidupan, bencana, keprihatinan dan lain-lain, sudut pandang saya dalam menulis jadi sangat berbeda dari sebelumnya.
So why should be Pantheon and Fontana di piazza della rotonda?
because, these place is AMAZING
saya termasuk orang yang tertarik dengan hal-hal yang berhubungan dengan sejarah, apapun.
*My favourite subject in school while I was an elementary kid is IPS SEJARAH.*
dan dengan menyukai hal tersebut, berusaha tidak tertarik dengan situs-situs bersejarah adalah mustahil.
Jelas
Mengutip dari Afifah Afra, katanya untuk belajar menulis kita harus menentukan setting tempat yang jelas agar plot yang diinginkan berjalan tepat sesuai harapan penulis. Situs Pantheon jelas adanya, sebuah kuil yang dimandori oleh Hadrian 128 BC- SM. Dan terlebih lagi yang lebih menarik adalah, tepat di depan Pantheon terdapat Fontana di Piazza della Rotonda.
kind of Romantic, I think
Situs Pantheon dipersembahkan oleh sang pembuat untuk semua dewa-dewi kepercayaannya saat itu, sedangkan Fontana di Piazza della Rotonda dibuat oleh Leonardo Sormani untuk merealisasikan titah Pope Gregory XIII Giacomo Della Porta.
semata mungkin tidak ada hubungannya, tapi kalau rasa melankolis saya ikut terbawa, fountain ini seperti diciptakan untuk menemani sang Pantheon. Diluar dari kepentingan apa yang dimaksud oleh para pembuatnya.
Well Enough research
Saat saya masih menjadi siswi di SMKN4 Bandung, Tugas Akhir mata pelajaran Java saya adalah Aplikasi Pembelajaran Sejarah di 5 benua. Dengan research yang sudah saya lakukan dimasa-masa pembuatan TA tersebut, saya berpikir untuk memanfaatkan satu diantaranya, yaitu sejarah Pantheon.
Menarik
Hal yang paling menarik dari kompleks situs ini adalah mereka ada di dua buah situs bersejarah yang sangat terkenal. Kalau biasanya cerita-cerita yang ada disetting agar si karaker dapat mengunjungi tempat wisata tersebut, kali ini saya mencoba untuk menempatkan karakter-karakter dengan aktivitas yang mereka habiskan setiap harinya di situs-situs ini.
Any soundtrack ?
No, I was shut my winamp off to prevent story line about another song that played
Di sinilah ia, memandang iba dengan tak kasat mata ke atas langit biru tanpa satupun awan yang berarak. Menyipitkan mata antara ingin dan tak ingin, merasakan angin berhembus pelan tanpa memedulikan lalu lalang keramaian disekitarnya. Di ujung Piazza della Rotonda, tepat di depan matanya Pantheon, di ujung matanya saat ia membuka mata, Pantheon, di setiap matanya berputar untuk mencari hal lain untuk dipandang, Pantheon. Disinilah tempat impian semasa kecilnya bergantung, tempat masa remajanya berakhir dengan melewati ujung jalan ini hampir 6 hari dalam seminggu, tempat awal usia kepala duanya dimulai. Luce. “Luce” Ia menoleh ke arah pemilik suara yang memanggil nama itu. “Kau sudah selesai? Ibu sudah menunggumu sejak empat puluh menit lalu. Ayo kuantar kau segera kesana ” Sahutnya sambil terburu-buru membantunya tanpa menatap tatapan kosong sang gadis berkursi roda. Luce. Katanya parau, ia menatap sepasang orang yang sepertinya kakak beradik itu menghilang diujung jalan diantara keramaian hilir mudik pengunjung kompleks wisata Pantheon. Menghela nafas bukan hal yang selalu diinginkannya, bukan juga hal yang menjadi kebiasan naluriahnya. Hanya saja ia seperti mengenal gadis itu, selamanya. Ia mengetahui gadis bernama Luce itu sedari remaja. Gadis itu selalu berada di sekitar Pantheon, menghadap ke arah air mancur yang berada di seberang Pantheon. Melihat gadis itu terdiam tenang di dekat tiang penyangga paling kanan Pantheon saat ia hendak pulang sekolah, melihat gadis itu nekat turun dari kursi rodanya namun tidak berhasil disuatu akhir pekan yang penuh turis asing, menyaksikan gadis itu akhirnya berhasil duduk di pelataran Pantheon setelah tiga hari kemudian dengan cara kedua tangan sekaligus berpegangan erat ke tiang penyangga paling ujung. Atau bahkan melihat gadis tersebut menolong turis asia yang meminta bantuannya untuk memotret mereka dengan latar belakang air mancur Fontana di piazza della Rotonda. Ya, yang selama ini dia tahu, gadis yang selalu di panggil Luce itu selalu menatap dengan berbagai ekspresi pada Fontana di piazza della Rotonda. Seperti seumur hidupnya, ia bagaikan menyaksikan Luce dengan berbagai aktivitas yang ia miliki dan dihabiskan di pelataran Pantheon selama berjam-jam lamanya, termenung menatap air mancur Fontana di piazza della Rotonda. Bertahun-tahun yang ia habiskan disepanjang jalanan ini, berangkat sekolah, membantu neneknya, mengantar kerabat dekat mengunjungi Pantheon, atau membeli makanan di seberang jalan. Tak pernah sekalipun Ia melihat Luce melewatkan harinya tanpa dihabiskan disana. Luce selalu ada disana, berdiam diri seperti orang yang jiwanya melayang entah kemana, atau menatap penuh semangat ke arah puncak air mancur itu. Baru setelah bertahun-tahun ia lewati masa demi masa dari umur yang ia miliki, Ia baru menyadari betapa lembutnya Luce yang selalu setia menatap Fontana di piazza della Rotonda itu. Tatapan lembut matanya, gerak pelan tubuhnya, atau sayu senyum heningnya. Luce. Hanya satu kata yang ia tahu, Luce yang ini begitu setia, begitu nekat untuk berada disana, di seberang Fontana di piazza della Rotonda dan menatap air mancur itu entah karena sakit jiwa atau kelainan atau mungkin gadis itu memang tulus adanya. Sekarang diawal usia dua puluhannya ia bermaksud menetap disini, kota dimana ia dibesarkan dari semasa kecil, kota tempat keluarganya tinggal, kota tempat kakek dan neneknya membesarkannya, kota tempat kakek dan neneknya meninggalkannya, kota tempat kakek dan neneknya dikuburkan di tempat peristirahatan terakhir. Kota seribu kenangan dengan kebesaran Pantheon, Coliseum, dan bahkan Fontana di piazza della Rotonda. Ia lalui hari-harinya yang masih dapat ia gapai, dengan melukis portrait para turis dengan sentuhan seni lukis yang ia miliki. Kadang saat jasa lukisnya sepi peminat, ia akan terbiasa dengan melukis kebesaran Pantheon, Kuil yang dipersembahkan untuk seluruh dewa dewi. Melukis setiap pilarnya dengan seksama, setiap detail pada kubah silindernya dari sisi dimana ia berada, oh Hadrian, andai kau tahu berapa banyak orang yang memuja karyamu saat ini. Di sini di sudut jalan dekat Fontana di piazza della Rotonda, seberang Pantheon, ia berlatih untuk melancarkan satu-satunya kemampuannya yang dapat membuatnya layak masuk Università degli Studi di Roma Tor Vergata.
***
Rambutnya hitam kecoklatan, semula selalu diikat, namun sekarang selalu diurai, ia berjaket sangat tebal di musim dingin. Kadang membawa beberapa batang coklat, dan menghabiskannya sendirian. Jika ia selesai dengan makanan dan minumannya, ia tersenyum ke arah air mancur itu. Seperti satu-satunya orang yang bahagia karena di dunia ini tuhan masih mengizinkan air mancur itu ada, seakan abadi, setidaknya untuk dirinya. Jika hujan salju tiba, ia tidak tahu apa yang terjadi pada Luce, karena ia sendiripun selalu berdiam diri dirumah saat cuaca beralih tidak mendukung. Akhir-akhir ini Luce lebih mudah ditemui di sekitar pelataran Pantheon, namun Luce disana, jauh dari keramaian turis yang berlalu lalang seenaknya, tanpa ada rasa iba terhadap gadis berkursi roda di sudut pelataran. Luce lebih sering tersenyum sekarang, mungkin mengiba terhadap langit biru, atau lagi-lagi terhadap Fontana di piazza della Rotonda. Ya ampun, aku pasti lupa betapa naksirnya Luce pada air mancur ini, gumamnya suatu hari saat mengerjakan sebuah lukisan. Entah apa yang ada dipikiran Luce yang selalu menatap air mancur ini tanpa henti, dimana ia selalu merenung. Sepertinya jika ia menjadi Luce, ia akan memilih menatap Pantheon sebagai objek panorama yang disukainya, kuil dengan ribuan marmer berwarna-warni yang menghiasi lantainya dan kubah menjulang tinggi yang menempel kokoh dilangit-langit dalamnya. Ia tak habis pikir mengapa diantara ribuan air mancur diseluruh Italia, Luce sangat mengagumi Fontana di piazza della Rotonda. Sedangkan ia sangat mengagumi Pantheon. *** Ia melukis Pantheon lagi, Pantheon yang sangat dikaguminya. Ia melukis dari sudut pandang yang berbeda setiap kalinya, sehingga setiap karya yang ia buat dari Pantheon, tidak ada yang pernah benar-benar serupa atau terlihat sama. Rambutnya hitam kecoklatan, jaketnya berwarna merah kali ini, senyumnya tulus, tatapannya hangat, terduduk diam di pelataran sudut Pantheon diatas… Kursi Roda? Ia terkesiap dengan apa yang baru ia kerjakan, sudah hampir enam kali ia melukis Pantheon dengan Luce di dalamnya. Dan kali ini dengan detail yang lebih spesifik, dengan hati dan perasaan yang tetap tidak menyadari, namun panca indera yang lebih dulu sadar akan apa yang diinginkannya dan menuangkannya dalam lukisan tanpa meminta izin terlebih dahulu terhadap hati dan perasaan. Luce, apakah kau bahkan tahu namaku? Pikirnya suatu waktu.
***
Oh Pantheon,
Oh Fontana di piazza della Rotonda,
Kalian diciptakan berhadap-hadapan
Satu sama lain.
Dalam suatu waktu tanpa pengecualian,
Akan kah semuanya mungkin terjadi,
Sampai tak ada jarak di antara kalian?
Rambutnya hitam kecoklatan, jaketnya berwarna merah kali ini, senyumnya tulus, tatapannya hangat, namun ia tidak terduduk diam di pelataran sudut Pantheon dengan kursi roda. Karena aku mendorong kursi rodanya, ke sebuah tempat yang baru. Dengan tawa kecil yang dilontarkan sang pemilik kursi roda. Hei Nona, ini awal pertama aku melihatmu tersenyum saat meninggalkan pelataran Pantheon, kita semakin dekat ke seberang, agar kau bisa menggapai arak airnya seperti dirimu yang penuh cahaya, menuju Fontana di piazza della Rotonda.
Story and Illustration Copyright Hana Zainab Mukarromah
Or maybe past event has made you becoming more wise looking guy, through every movement you take and every act you did, and every hope you tangle in every pray you said See More
New Inception Project ~ Finding My own Sense in Literature (more)
And oh Yes, is it September already ? what would we gonna do with this blog ?
it's like an abandoned site, yeahs I've been spending so much time in my WordPress, tumblr, and deviantart, but not here.
Well, this could be the (again) inception. Delighted for the new rearranged templates I've been working for. Just love this teal like Green, OMG I fond Green so much
My New Project here is?
Finding My own sense in literature (more),
Though I've been publishing poems and poetry so many times and publishing it in my WordPress, why ain't I try it here?
ind of,
Dari sejak Mts belajar bikin puisi, karena sebetulnya ada pelajaran balaghah. dan baru menyadari betapa luhurnya anak kelas 1 smp belajar mengetahui komponen-komponen dalam syair arab :| . Just, Oh God
Probably, I like Literature so much, sastra things, puisi, pantun, novel sastra, syair, apapun mereka disebutnya maybe in reading side, not in writing side.
tapi, lambat laun sering juga ternyata membuat hal-hal semacam itu (unnoticedly)
so I kind of delighted to write some literature things,
My dream was about to own my own literature novel, and I know someday i'll make it come true.
Sedikit jadi mengenang saat-saat masih berada di Madrasah Tsanawiyyah, dan tentu saja karena project kali ini 'Finding My Own Sense in Literature (more)'