Sunday, April 3, 2011

Menulis novel


A. Karakteristik novel

            Adapun novel, ciri khas yang paling jelas, adalah ceritanya yang panjang. Karena panjang itulah tersedia ruang yang cukup untuk kita mengolaborasi setting, tokoh dan konflik, sehingga akan terbangun sebuah alur yang komplek.
            Peristiwa dalam novel akan senantiasa berkembang. Selain peristiwa, tokoh dan kepribadiannya, nasib mereka dan juga konflik yang terjadi pada mereka, masing-masing berkembang dan saling jalin-menjalin, sehingga membentuk sebuah rangkaian cerita yang panjang, namun masih pada pola yang utuh.
            Berbeda dengan cerpen yang oleh Edgar Allan Poe dianjurkan untuk menghindari deskripsi, pada novel deskripsi justru sering dianjurkan, terutama untuk memenuhi kaidah show, bukan talk. Misalnya, kita ingin menulis tentang orang menangis, maka perlihatkanlah kepada pembaca bagaimana orang sedang menangis, bukan sekedar menyebutkan bahwa seseorang itu tengah menangis.

            Talk:
            Decky menangis meraung-raung saat      mendengar kucing kesayangannya digilas            buldoser.

            Show:
            Tetes demi tetes air membulir di pipi       Decky, disambung dengan isakan tertahan          dan gerungan menyayat ketika suara serak         adiknya merasuk ke gendangan telinganya,         “Pussie, kucing Kakak digilas buldoser”  

            Dengan demikian, dalam novel, selain narasi untuk mengantarkan cerita, deskripsi juga biasa digunakan untuk menggambarkan tempat yang menjadi setting, melukiskan karakteristik pelaku, suasana hati para tokoh dan sebagainya.


B. Unsur-unsur pembangun novel

            Karena kita diizinkan mengolaborasi bahasa sedetail mungkin dalam novel, maka ruang gerak kita menjadi lebih leluasa. Hal tersebut, tentu saja berpengaruh terhadap unsur-unsur yang membangun novel.

            Tema
           
            Untuk tema, kita sah-sah saja menulis 1 novel dengan beragam tema, asal jangan berkesan berjejalan. Jika tema yang anda angkat lebih dari satu anda dapat membuat novel anda menjadi dwilogi, trilogi, atau  tetralogi. Contoh novel dwilogi adalah ‘Eragon’. Untuk novel trilogi seperti ‘The Lord of the Rings’, Karya J. R. R. Tolkien yang terkenal, tentang perjalanan Frodo Baggins sang pembawa cincin bertuah yang bertujuan ke kawah mordor untuk memusnahkan cincin tersebut, namun Frodo dan teman-temannya termasuk Legolas harus berjuang untuk dapat melaksanakannya dan membuat kedamaian di Middle Earth. Contoh tetralogi yang cukup termasyhur di khasanah kesusastraaan Indonesia sebut saja ‘Bumi Manusia’ karya Pramudya Ananta Toer.
            Sedangkan untuk yang lebih dari 4 buku, anda bisa melihat novel-novel serial yang pelaku utamnya sama sebagian setting juga sama namun memiliki tema berbeda-beda, seperti novel ‘Harry Potter’ karya J.K. Rowling.

            Setting
           
            Setting pada novel, baik setting tempat maupun waktu, bisa berubah-rubah dan berkembag sesuai tuntutan peristiwa.
            Demikian juga dengan waktu. Sangat berkembang sesuai dengan tuntutan. Dan inilah titik rawan dari penulisan sebuah novel. Seringkali penulis tidak konsisten dengan waktu saat membangun cerita. Anakronisme, atau kesalahan waktu, seringkali mewarnai sebuah novel, membuat seorang penulis harus bisa lebih jeli lagi dalam menyusun karyanya.
            Selain kesalahan waktu kesalahan tempat, budaya, warna lokal dan sebagainya juga harus dihindari dalam penggunaan setting.

            Tokoh

            Ruang yang lebih bebas pada novel, memungkinkan kita untuk memunculkan  banyak tokoh dengan karakteristik yang beragam. Kita boleh mengembangkan tokoh tersebut, sehingga memungkinkan terjadinya perubahan nasib.
            Meskipun jumlah tokoh itu banyak, namun sebagaimana narasi, tokoh-tokoh itu bisa dibedakan menjadi tokoh antagonis dan protagonis. Contoh antagonis dan protagonis itulah yang kemudian bertarung sehingga terbentuk sebuah konflik.
            Dan karena banyaknya itu pula, untuk meminimalisir kesalahan yang muncul, kita juga dianjurkan membuat list tokoh-tokoh berikut kepribadiannya. Daftar itu penting dibuat untuk menghindari kesalahan yang mungkin muncul.
            Agar konflik berkembang ramai, biarlah para tokoh itu terlibat masalah satu sama lain. Sebaiknya, kita tidak terjebak untuk intervensi dalam masalah tersebut, sehingga para tokoh itu tidak menjadi jelmaan anda yang membelah menjadi beberapa bagian.
            Kalaupun anda ingin mengintervensi, ambil salah satu tokoh yang paling anda sayangi, dan masukkan diri anda kesana dan dialah gambaran anda secara ideal.

            Alur- plot
           
            Banyaknya tokoh yang dipadukan dengan beragamnya setting akan membuat banyak peristiwa yang terjadi. Peristiwa itu melahirkan konflik-konflik kecil di samping konflik besar yang menjadi poros utama sebuah novel. Oleh karenanya tak jarang, meskipun sudah ada plot besar, ternyata kita jumpai pula beragam sub plot yang satu sama lain saling menjalin.
            Untuk memudahkan kita dalam merangkai plot ataupun sub-plot sub-plot tersebut menjadi sebuah karangan yang padu, saya biasa membuat outline sebelum menulis sebuah novel. Outline adalah pengembangan dari plot yang sebelumnya sudah kita tentukan. Kita membutuhkan outline sebagai rambu-rambu dalam menulis. Outline itu semacam kerangka karangan, sebagai sebuah panduan agar cerita tidak lari kemana-mana.



Menulis Novel,
 diambil dari buku  ‘How to be a smart writer’
Karya Afifah Afra,
Rearranged and rewrited by Hana Zainab Mukarromah.
Untuk kalangan sendiri.
           
Hana Zainab Mukarromah Web Developer

I am a programming teacher who lived in Bandung, pluviophile nephelolater, oneironaut, writer, blogger, muslimah for a living